Bukittinggi, "Antara Ketenangan Sejati, atau Sekadar Konten Estetika"

  • 03 Feb 2026 15:20 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Tren gaya hidup slow living di Bukittinggi kini menjadi perbincangan hangat bagi kalangan generasi muda. Banyak pihak mempertanyakan apakah pola hidup ini benar-benar berkualitas atau sekadar konten estetika media sosial belaka.

Kota Bukittinggi dengan udara sejuk serta pemandangan alamnya memang sangat mendukung suasana hidup yang lebih tenang. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi mereka yang ingin segera lepas dari kepenatan kota besar.

Penerapan slow living sejatinya adalah upaya manusia untuk hidup lebih sadar dan menghargai setiap momen tersedia. Di Bukittinggi, fenomena ini terlihat jelas dari kebiasaan warga menikmati kopi pagi tanpa merasa terburu-buru.

Namun, popularitas tren ini di Instagram sering kali hanya menonjolkan sisi visual yang terlihat sangat indah saja. Banyak konten kreator hanya fokus pada sudut kafe cantik demi mendapatkan pengikut dalam jumlah yang banyak.

Fenomena tersebut akhirnya menimbulkan persepsi bahwa slow living hanya bisa dinikmati oleh kalangan ekonomi tertentu saja. Padahal, inti dari gaya hidup ini adalah kesederhanaan batin dan bukan tentang pamer kemewahan materi.

Warga lokal menilai bahwa ketenangan di Bukittinggi merupakan warisan budaya luhur yang sudah ada sejak lama. Mereka menjalani hidup dengan ritme teratur tanpa harus memberikan label istilah modern pada aktivitas harian.

Bagi pendatang baru, transisi menuju gaya hidup ini ternyata membutuhkan proses adaptasi mental yang cukup besar. Menurunkan tempo aktivitas harian terbukti tidak semudah mengambil foto estetik untuk diunggah ke jaringan internet.

Jadi, slow living di Bukittinggi akan terasa sangat berharga jika dilakukan dengan niat hati yang tulus. Sebaliknya, hal ini hanya akan menjadi beban jika tujuannya hanyalah demi mendapatkan validasi di dunia maya. (MK/YPA)

Rekomendasi Berita