Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang, Ikon Budaya Ekonomi

  • 04 Feb 2026 14:27 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang merupakan salah satu arena pacuan kuda tertua di Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang tinggi sebagai warisan era kolonial Belanda. Hingga kini, gelanggang ini tetap menjadi ikon budaya dan penggerak ekonomi di Sumatra Barat.

Sejarah gelanggang ini tercatat sejak era kolonial. Jejak tertulisnya dapat ditemukan pada prasasti peringatan 40 tahun Klub Pacu Kuda Bukittinggi (1889–1929), yang menunjukkan bahwa pacuan kuda terorganisir telah ada setidaknya sejak tahun 1889. Arena ini awalnya dibangun oleh pemerintah Belanda di perbatasan Nagari Gaduik (Kabupaten Agam) dan Luak Anyir (Kota Bukittinggi), dan pada masanya menjadi olahraga elit bagi kalangan bangsawan.

Kini, Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang memiliki peran yang lebih luas. Pemerintah daerah memandang kegiatan pacuan kuda di lokasi ini sebagai sarana pemersatu masyarakat Sumatra Barat, sekaligus menjadi lokomotif ekonomi lokal. Setiap perlombaan kuda menghidupkan sektor perhotelan, rumah makan, UMKM kreatif seperti perajin songket, dan pedagang kuliner yang berjejer di sekitar arena.

Gelanggang ini tetap aktif digunakan untuk kompetisi besar. Misalnya, Open Race 2025 dijadwalkan berlangsung pada 11 Mei dan 28 Desember 2025, terbuka untuk umum dan diperkirakan akan dipadati puluhan ribu penonton dari berbagai daerah.

Keunikan Bukit Ambacang terletak pada karakter alamnya. Arena ini dikenal sebagai stadion alam, bukan stadion beton. Tribune penonton terbentuk dari kontur perbukitan yang melandai dan mengelilingi lapangan, memberikan pandangan luas bagi ribuan pengunjung. Lokasinya hanya sekitar 5 km di utara pusat Kota Bukittinggi, menjadikannya gelanggang pacuan kuda paling bergengsi dan mudah diakses masyarakat Sumatra Barat.

Gelanggang Pacuan Kuda Bukit Ambacang bukan hanya sarana olahraga, tetapi juga warisan budaya dan simbol identitas masyarakat yang terus dijaga keberlangsungannya. Sejak masa kolonial hingga era modern, Bukit Ambacang tetap menjadi pusat kegiatan budaya, ekonomi, dan hiburan rakyat di Ranah Minang.(ER)

 

 

Rekomendasi Berita