Goedang Ransoem, Dapur Besar Penopang Tambang Ombilin
- 11 Feb 2026 19:20 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Di Jalan Abdul Rahman Hakim, Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan kisah unik tentang dapur raksasa peninggalan kolonial. Namanya Museum Goedang Ransoem.
Berlokasi sekitar 94 kilometer atau kurang lebih dua jam perjalanan dari Kota Padang, museum ini menjadi salah satu destinasi sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau—Rp4.000 untuk dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak pengunjung sudah bisa menelusuri jejak industri tambang batu bara terbesar di Nusantara pada masanya.
Dari Dapur Umum Menjadi Museum Bersejarah
Gedung Museum Goedang Ransoem dibangun pada tahun 1918 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Awalnya, bangunan ini merupakan dapur umum raksasa yang memasok makanan bagi ribuan pekerja tambang batu bara Ombilin, keluarga mereka, serta pasien Rumah Sakit Umum Daerah Sawahlunto.
Setiap hari, dapur ini memasak sekitar 3.900 kilogram beras atau lebih dari 65 pikul nasi. Untuk mendukung produksi sebesar itu, tersedia dua gudang besar serta 20 tungku masak yang menggunakan sistem uap. Uniknya, uap panas dialirkan dari boiler yang berada di atas perbukitan melalui pipa-pipa menuju ruang bawah tanah dapur, lalu disalurkan ke tungku-tungku masak. Sistem ini tergolong modern pada zamannya.
Sekitar 100 orang karyawan bekerja setiap hari untuk menyiapkan makanan bagi para pekerja tambang, termasuk pekerja kontrak dan pekerja paksa yang dikenal sebagai “orang rantai”. Menu yang disajikan cukup lengkap: nasi, daging, ikan asin, telur asin, sawi, kol, hingga teh sebagai minuman. Untuk sarapan, tersedia lapek-lapek penganan dari beras ketan merah, kelapa, dan gula merah yang dibungkus daun pisang. Menu ini dianggap layak pada masa itu karena pemerintah kolonial berkepentingan menjaga produktivitas pekerja tambang.
Kini, replika makanan tersebut dapat dilihat di dalam museum sebagai bagian dari koleksi yang memperkaya pengalaman pengunjung.
Saksi Bisu Berbagai Zaman
Seiring waktu, fungsi bangunan ini terus berubah. Pada masa pendudukan Jepang hingga Agresi Belanda II, dapur ini digunakan untuk memasak makanan dalam skala besar bagi tentara. Saat revolusi kemerdekaan, tempat ini kembali difungsikan sebagai dapur logistik militer.
Pasca kemerdekaan, gedung ini pernah menjadi Kantor Perusahaan Tambang Batu Bara Ombilin, gedung SMP Ombilin (1960–1970), hunian karyawan tambang hingga tahun 1980, bahkan sempat menjadi tempat tinggal masyarakat hingga 2004.
Barulah pada tahun 2005, Pemerintah Kota Sawahlunto melakukan konservasi dan penataan kawasan ini menjadi museum. Museum Goedang Ransoem resmi dibuka pada 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Jusuf Kalla. (DEP)