Bangunan SD di SBT Nyaris Roboh, Siswa Belajar di Bawah Atap Bocor
- 09 Jan 2026 16:04 WIB
- Bula
KBRN, Bula: Kondisi bangunan Sekolah Dasar (SD) 14 Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku nyaris roboh. Meski demikian, aktivitas belajar mengajar masih tetap berlangsung di tengah keterbatasan dan risiko keselamatan bagi siswa dan guru.
Pantauan di lokasi, Jumat (9/1/2026), menunjukkan hampir seluruh ruang kelas di sekolah yang berada di Desa Administratif Persiapan Inlomin tersebut dalam kondisi tidak layak pakai.
Sejumlah kayu penyangga bangunan tampak lapuk, plafon menggantung dan berpotensi ambruk, sementara jendela kaca pecah, pintu rusak, lantai hancur, serta dinding retak terlihat di berbagai sudut ruang kelas.
Salah satu guru SD 14 Pulau Gorom, Aty Rumau, mengatakan proses pembelajaran terpaksa tetap dilakukan meski kondisi bangunan sangat memprihatinkan.
“Kalau hujan, kami belajar sambil berdiri atau berpindah-pindah tempat. Kadang guru menyuruh siswa pulang karena kelas tidak bisa digunakan,” kata Aty.
Ia menjelaskan, saat hujan deras air kerap masuk ke dalam ruang kelas dan membasahi buku pelajaran serta bangku siswa, sehingga kegiatan belajar mengajar harus dihentikan lebih awal demi menghindari risiko yang lebih besar.
Selain kerusakan bangunan, keterbatasan fasilitas pendukung seperti meja, kursi, dan alat peraga pembelajaran juga menjadi kendala serius bagi para guru dalam menyampaikan materi pelajaran secara optimal.
“Bagaimana bicara kualitas pendidikan kalau anak-anak harus belajar di bangunan yang setiap saat bisa roboh,” ujarnya.
Kondisi SD 14 Pulau Gorom tersebut dinilai mencerminkan masih adanya ketimpangan pembangunan infrastruktur pendidikan, khususnya di wilayah kepulauan dan daerah pinggiran di Kabupaten Seram Bagian Timur.
Masyarakat setempat berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki bangunan sekolah tersebut agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan layak.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang dipertaruhkan bukan hanya gedung sekolah, tetapi masa depan generasi Maluku,” pungkas Aty.