Milad 53 Bima Suci Teguhkan Tradisi
- 15 Feb 2026 22:17 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan - Perguruan Silat Bima Suci menapaki usia ke-53 pada 2026 dengan langkah yang tetap tegap seperti jurus yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Kabupaten Kuningan, perguruan ini bukan sekadar tempat berlatih bela diri, melainkan ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan kebersamaan.
Milad tahun ini dimaknai sebagai waktu untuk menengok ke belakang sekaligus menata arah ke depan. Rangkaian peringatan diawali ziarah ke makam para pendiri pada 16 Januari 2026. Nama-nama seperti H A Mad Saleh, Rudianto, dan Mamat Komarudin kembali disebut dalam doa mengingatkan bahwa perguruan ini lahir dari kesabaran dan laku panjang para guru.
Suasana hangat berlanjut dalam syukuran keluarga besar perguruan. Tak ada kemewahan berlebih, hanya kebersamaan yang terasa akrab, seperti keluarga yang dipertemukan oleh nilai yang sama.
Semangat milad lalu bergeser ke ruang publik. Pada 25 Januari 2026, di Jalan Siliwangi, para pesilat muda dan senior menggelar latihan gabungan, pentas seni bela diri, serta donor darah. Aksi sosial itu menjadi pesan bahwa kekuatan pesilat tak hanya di tangan dan kaki, tetapi juga pada kepedulian.
Ketua perguruan, Toto Suripto, memandang 53 tahun sebagai bukti daya tahan sebuah nilai.
“Silat bukan sekadar gerak fisik, tapi jalan pengabdian. Tema 53 tahun mengabdi dan membangun kebersamaan ini adalah visi yang harus dijalankan,” ujarnya saat gebyar milad di D'Jhons Pool Family Billiard & Cafe, Minggu, 15 Februari 2026.
Selama lebih dari setengah abad, Bima Suci konsisten melahirkan atlet yang tampil di berbagai ajang, dari Bupati Cup, Popda, Popwil hingga SEA Games. Namun prestasi, bagi mereka, selalu berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak.
Guru Besar Cecep Aziez Ramdhani menyebut ruh pendidikan di perguruan ini bertumpu pada tiga pilar: sholat, sholawat, dan silat.
“Sholat menguatkan fondasi spiritual, sholawat melembutkan hati, dan silat menjadi sarana membela kebenaran,” katanya menuturkan.
Apresiasi juga datang dari Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, yang menilai keberlangsungan perguruan selama puluhan tahun sebagai bukti disiplin para guru.
“Pencak silat adalah bahasa jiwa. Bima Suci membuktikan tradisi bisa berjalan seiring prestasi,” ucapnya.
Gebyar milad diisi penyematan sabuk dewan guru, santunan anak yatim, penghargaan atlet, dan pentas silat. Di Kuningan, perguruan ini tumbuh sebagai rumah nilai tempat generasi muda belajar tajam dalam jurus, jernih dalam hati, dan rendah hati dalam sikap.
Bagi Bima Suci, 53 tahun bukan garis akhir. Ia hanya jeda, sebelum jurus berikutnya ditegakkan kembali.