Kresna Brahmacari, Pengendalian Diri dan Pengabdian Kepada Tuhan
- 09 Mar 2026 10:12 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar Ida Bagus Gede Bawa Adnyana dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar menjelaskan bahwa konsep Kresna Brahmacari merupakan jalan spiritual dalam ajaran Hindu yang menekankan pentingnya kesucian, pengendalian diri, dan pengabdian kepada Tuhan sebagai upaya mencapai kebahagiaan sejati, Senin, 9 Maret 2026. Ajaran ini berkaitan erat dengan tahapan kehidupan manusia dalam konsep Catur Asrama, yaitu Brahmacari, Grihastha, Wanaprastha, dan Sanyasin atau Saniasa atau Bhiksuka.
Menurut Bawa Adnyana, pada masa Brahmacari Asrama, seseorang menjalani proses menuntut ilmu dan pembentukan karakter sejak usia dini, baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan formal. Pengetahuan dianggap sebagai sarana penting untuk mengatasi kebodohan atau awidya sehingga manusia mampu membedakan perbuatan yang baik dan buruk.
Tahapan berikutnya adalah Grihastha Asrama, yaitu masa berumah tangga yang menekankan kerja sama antara suami dan istri dalam membangun keluarga yang harmonis. Dalam fase ini suami bertugas melindungi serta menafkahi keluarga, sementara istri berperan menjaga keharmonisan rumah tangga serta mendidik anak.
Selanjutnya terdapat Wanaprastha Asrama, yaitu masa ketika seseorang mulai menarik diri dari keterikatan duniawi setelah menyelesaikan kewajiban keluarga. Pada masa ini umat dianjurkan lebih aktif dalam kegiatan spiritual dan pengabdian sosial seperti ngayah serta kegiatan keagamaan.
Tahapan terakhir adalah Sanyasin atau Saniasa atau Bhiksuka Asrama, yaitu fase kehidupan yang sepenuhnya didedikasikan untuk pengabdian kepada Tuhan. Pada tahap ini seseorang melepaskan keterikatan duniawi dan memusatkan hidupnya pada spiritualitas hingga akhir hayat.
“Dalam ajaran Kresna Brahmacari, perkawinan tidak hanya dimaknai sebagai penyatuan fisik, tetapi juga penyatuan empat unsur penting dalam kehidupan,” ungkap Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut. Ditambahkan, keempat unsur tersebut meliputi Sarira Wiwaha (penyatuan fisik), Manasa Wiwaha (penyatuan pikiran dan cita-cita), Jiwa Wiwaha (penyatuan kasih sayang), serta Atma Wiwaha (penyatuan jiwa secara spiritual).
Melalui pemahaman tersebut, pasangan suami istri diharapkan mampu menjaga keharmonisan rumah tangga secara lahir dan batin. Prinsip ini sejalan dengan tujuan perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan yang menekankan terbentuknya keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Ajaran ini juga menekankan beberapa prinsip dasar seperti kesucian hidup, pengendalian diri, pengabdian kepada Tuhan, kesederhanaan, serta berbuat baik kepada semua makhluk”, jelas Bawa Adnyana. Ditegaskan, bahwa nilai tersebut sejalan dengan konsep Vasudhaiva Kutumbakam, yang memandang seluruh manusia sebagai satu keluarga besar di dunia.
Selain itu, keluarga Hindu juga memiliki tanggung jawab dalam mendidik anak dengan penuh kasih sayang dan tanpa kekerasan. Pendidikan spiritual sejak dini dilakukan melalui kebiasaan sembahyang, pengenalan ajaran dharma, serta pelaksanaan berbagai upacara samskara sebagai bagian dari proses penyucian diri.
Dengan memahami dan menjalankan ajaran Kresna Brahmacari, umat Hindu diharapkan mampu membangun kehidupan keluarga yang harmonis serta mencapai tujuan hidup spiritual. Jalan ini diyakini menjadi salah satu cara untuk meraih kebahagiaan sejati dan keseimbangan hidup sesuai ajaran dharma.