Makna Ogoh-Ogoh dalam Perayaan Hari Raya Nyepi
- 10 Mar 2026 16:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat di wilayah Bali disibukkan dengan kegiatan membuat patung raksasa bernama ogoh-ogoh. Patung ini umumnya dibuat dengan bentuk menyeramkan yang menyerupai makhluk mitologis sebagai simbol energi negatif.
Pada malam pengerupukan sebelum nyepi, ogoh-ogoh diarak keliling desa. Tradisi ini menjadi salah satu bagian pentiing dari rangkaian perayaan Nyepi di Bali.
Melansir dari Pemkab Buleleng, ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang menggambarkan kepribadian bhuta kala. Bhuta kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan. Oleh karena itu, ogoh – ogoh seringkali digambarkan dalam wujud makhluk hidup seperti naga dan gajah.
Dalam ajaran Hindu Bali, bhuta kala tidak selalu dimaknai sebagai sesuatu yang sepenuhnya jahat, melainkan sebagai unsur alam yang harus diseimbangkan. Ogoh-ogoh disebut sebagai simbol visual dari energi negatif yang nantinya dinetralkan melalui ritual dan prosesi adat.
Mengutip dari CNN Indonesia, tradisi mengarak ogoh-ogoh biasanya dilakukan kelompok pemuda desa atau biasa disebut Sekaa Teruna Teruni (STT). Diiringi dengan musik tradisional Bali seperti gamelan baleganjur, arak-arakan ini menciptakan suasana meriah dan sakral. Setelah prosesi selesai, beberapa ogoh-ogoh biasanya dibakar sebagai simbol penghancuran sifat-sifat buruk dan energi negatif dalam diri manusia.
Selain memiliki makna spiritual, ogoh-ogoh juga mencerminkan kreativitas masyarakat Bali. Setiap tahun ogoh-ogoh semakin beragam dan inovatif dengan memanfaatkan teknologi. Mulai dari bentuk yang menggambarkan tokoh mitologi, raksasa, hingga simbol-simbol sosial yang menggambarkan kondisi masyarakat.
Dalam konteks perayaan Nyepi, ogoh-ogoh memiliki peran penting sebagai bagian dari proses penyucian alam semesta. Setelah malam pengerupukan yang penuh aktivitas, keesokan harinya umat Hindu akan menjalani Nyepi.
Ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa yang diarak saat menjelang Nyepi. Tradisi ini mengandung pesan simbolis tentang upaya manusia untuk mengendalikan sifat negatif dan menjaga keharmonisan kehidupan.