Makna Filosofis Tumpek Wayang

  • 10 Mar 2026 19:53 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gianyar , I Ketut Wintenaya,S.Ag.,M.Pd.H., ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 10 Maret 2026, menjelaskan Perayaan hari suci Tumpek Wayang yang jatuh setiap 210 hari pada Saniscara Kliwon wuku Wayang, mempunyai makna filosofis sebagai momentum turunnya manifestasi Hyang Widhi ke dunia. Secara etimologis kata “Tumpek berasal dari kata “ tampa” mendapat sisipan “um” menjadi “tumampa, mengalami perubahan konsonan menjadi Tumampek yang mengandung arti dekat.

" Kedekatan ini bukan sekadar fisik, melainkan penyatuan pikiran yang suci untuk menyerap energi positif yang turun dari langit menuju bumi pada hari tersebut. Sehingga pengertian hari suci Tumpek merupakan peringatan turunnya kekuatan manifestasi Hyang Widhi ke dunia, umat diharapkan mampu mendekatkan diri pada kekuatan spiritual Tuhan." ujar Wintenaya.

Wintenaya menambahkan, secara spesifik hari suci Tumpek Wayang ini dipersembahkan kepada Sang Hyang Iswara,sebagai kekuatan yang memberikan penerangan terhadap kegelapan batin, serta memberikan pencerahan kepada umat manusia melalui cahaya suci-Nya. Pertemuan antara siklus Saptawara dan Pancawara yang jatuh pada Kliwon ini, menciptakan atmosfer sakral untuk memuja Tuhan, dalam fungsinya sebagai penguasa keheningan dan kebijaksanaan di alam semesta.

Dalam sistem kalender Bali, Tumpek Wayang merupakan Tumpek terakhir dari urutan enam Tumpek yang ada dalam satu siklus kalender Pawukon yang berlangsung selama enam bulan. penempatan di akhir siklus ini menandakan sebuah puncak evaluasi spiritual bagi umat Hindu,sebelum memasuki siklus baru,yang diharapkan membawa kualitas kehidupan dan kesadaran yang lebih tinggi.

Wintenaya menekankan bahwa perayaan ini bukan hanya ritual rutin, melainkan upaya untuk menghormati segala bentuk seni dan kesenian, sebagai wujud syukur atas talenta yang diberikan oleh Sang Pencipta. Berbagai benda seni seperti wayang dan gamelan diupacarai karena dipercaya mengandung unsur estetika, yang mampu menghaluskan budi pekerti manusia melalui getaran suara dan visualnya.

Melalui pemahaman filosofis yang kuat diharapkan membuat umat tidak hanya terjebak dalam seremoni, namun mampu mengimplementasikan nilai-nilai kesucian dalam perilaku sehari-hari. " Setiap Tumpek jatuh pada Kliwon, dalam hal ini perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara , momen ini menjadi sangat krusial untuk melakukan penyucian diri secara menyeluruh," tutup Wintenaya.

Rekomendasi Berita