Larangan Keramas saat Kala Paksa Berdasarkan Lontar Sundarigama

  • 11 Mar 2026 12:13 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Umat Hindu dihimbau untuk menaati larangan keramas atau mencuci rambut, pada hari Jumat Wage Wuku Wayang atau Kala Paksa, karena hari tersebut dianggap sebagai puncak kekotoran dunia secara spiritual. Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gianyar , I Ketut Wintenaya,S.Ag.,M.Pd.H., menjelaskan larangan ini dengan merujuk pada teks suci Lontar Sundarigama yang sangat sakral.

Menurut Wintenaya pelanggaran terhadap larangan ini, dipercaya dapat berdampak buruk pada tingkat kecerdasan dan kejernihan pikiran seseorang, karena melakukan penyucian diri pada waktu yang tidak tepat. "Hari Jumat Wage wuku Wayang disebut Hari Pemagpag Kala atau hari Kala Paksa, yang merupakan titik puncak kekotoran dunia, sehingga pada hari itu umat Hindu dilarang keramas," tutur Wintenaya ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 10 Maret 2026.

Menurut petikan Lontar Sundarigama, pada hari tersebut semua sumber air di dunia sedang mengandung leteh atau kekeruhan spiritual, akibat pertemuan energi yang tidak harmonis di alam semesta. Hal ini merupakan peringatan bagi umat Hindu, agar lebih berhati-hati dalam melakukan tindakan fisik yang bersifat menyucikan, karena justru bisa menyerap energi negatif yang sedang memuncak di lingkungan sekitar.

Larangan ini juga berlaku bagi para pemuka agama atau Wiku, yang pada hari tersebut tidak diperbolehkan melakukan pemujaan tertentu, karena kuatnya pengaruh Panca Maha Butha. "Umat Hindu dilarang menyucikan diri sampai pada hari Jumatnya, akibatnya akan punah semua kepintarannya, jika nekat melakukan hal tersebut secara sembarangan," jelas Wintenaya.

Wintenaya menambahkan selain dilarang keramas, umat Hindu diminta untuk memusatkan pikiran pada pengendalian diri, dan tidak melakukan aktivitas luar ruang yang berlebihan jika tidak mendesak. Kondisi alam yang sedang "gerah" secara metafisika, memerlukan sikap tenang dan mawas diri, agar manusia tidak mudah terpancing emosi, atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain di sekitarnya.

Penjelasan teknis mengenai jumlah urip pada hari tersebut yang berjumlah lima, juga menjadi alasan mengapa kekuatan alam, sedang dalam kondisi paling dominan dibandingkan kekuatan spiritual manusia. Dengan mematuhi rambu-rambu tradisional ini, diharapkan umat Hindu dapat melewati masa kritis spiritual dengan selamat, sebelum akhirnya mencapai puncak penyucian pada hari Tumpek Wayang, yang jatuh keesokan harinya yaitu pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang.

Rekomendasi Berita