Tiga Kekuatan Dewa Menyatu pada Tumpek Wayang
- 11 Mar 2026 13:04 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gianyar , I Ketut Wintenaya,S.Ag.,M.Pd.H., ketika berbincang dalam program acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 10 Maret 2026, mengungkapkan adanya penyatuan tiga unsur alam, yang menciptakan suasana gerah secara metafisika, tepat pada hari suci Tumpek Wayang. Ia merinci bahwa unsur air, api, dan angin bertemu menjadi satu, sehingga menimbulkan pengaruh kuat terhadap kehidupan manusia.
Ketiga unsur tersebut masing-masing dikuasai oleh dewa di titik mata angin berbeda, yakni Bhatara Wisnu di Utara, Bhatara Brahma di Selatan, dan Bhatara Siwa di Tengah. “Pertemuan kekuatan dari para dewa ini pada satu titik waktu, menciptakan getaran energi yang sangat besar, namun sekaligus memunculkan simbol Bhatara Kala yang harus dinetralisir melalui upacara penyucian” ujar Wintenaya.
Wintenaya menambahkan, wuku Wayang sorganya di Utara dengan urip empat dikuasai Bhatara Wisnu, sedangkan Sabtu atau Saniscara sorganya di Selatan dengan urip sembilan dikuasai Bhatara Brahma. Kemudian hari Kliwon sorganya di tengah dengan urip delapan dikuasai Bhatara Siwa, sehingga ketiga unsur air, api, dan angin menjadi satu pada Tumpek Wayang.
Penjelasan teknis mengenai angka-angka urip ini menunjukkan bahwa setiap waktu dalam kalender Bali, memiliki beban energi tertentu yang memengaruhi kecocokan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Dijelaskan Wintenaya, kondisi alam yang penuh dengan desakan energi dari tiga penjuru ini, sering kali disimbolkan sebagai suasana yang tidak tenang, sehingga manusia memerlukan ritual khusus untuk menjaga keseimbangan budi pekertinya.
Wintenaya menjelaskan secara filosofis, pemahaman mengenai dewa penguasa mata angin ini, bertujuan agar umat Hindu menyadari bahwa mereka hidup di tengah-tengah sirkulasi energi alam yang sangat dinamis. Pengetahuan tentang posisi dewa penguasa ini, juga menjadi dasar dalam menentukan jenis sesaji atau banten yang tepat, agar sesuai dengan karakteristik energi yang sedang dominan pada hari suci tersebut.
Dengan memahami peta spiritual ini, masyarakat diharapkan mampu melakukan tindakan penyucian, yang selaras dengan tata cara pelaksanaan yang telah diwariskan oleh para leluhur melalui naskah suci. “Upaya sinkronisasi antara elemen alam dan kesadaran spiritual manusia ini, menjadi kunci utama untuk mengubah pengaruh buruk Bhatara Kala menjadi anugerah kesejahteraan bagi seluruh isi alam semesta” tutup Wintenaya.