Drakor Still Shining, Cinta Pertama yang Belum Padam

  • 07 Mar 2026 15:34 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – "Still Shining” (샤이닝) adalah drama Korea terbaru bergenre romantic melodrama dan coming‑of‑age tentang dua orang yang pernah berbagi dunia kecil sendiri saat remaja, lalu dipaksa berpisah dan bertemu lagi sepuluh tahun kemudian dengan luka, mimpi, dan versi baru diri mereka masing‑masing. Drama ini punya 10 episode berdurasi sekitar 60 menit per episode, tayang perdana 6 Maret 2026 di JTBC setiap Jumat pukul 20.50 KST, dan dirilis secara global di Netflix di hari yang sama sehingga penonton Indonesia bisa mengikutinya legal dan berbarengan. Kursi sutradara dipegang Kim Yoon‑jin, dengan naskah ditulis Lee Sook‑yeon, dan dibintangi oleh Park Jin‑young (GOT7) sebagai Yeon Tae‑seo serta Kim Min‑ju sebagai Mo Eun‑ah.

Yeon Tae‑seo adalah masinis kereta bawah tanah yang tampak biasa saja di mata penumpang: seragam rapi, pandangan tenang, hidup teratur dari satu ujung jalur ke ujung lainnya. Di balik rutinitas yang nyaris mekanis itu, Tae‑seo menyimpan cara pandang tajam tentang hidup—ia memilih fokus pada “hari ini” saja, tidak berani menggambar masa depan terlalu jauh setelah berbagai rencana besarnya di usia belasan tahun hancur berantakan. Keputusannya untuk hidup sederhana dan mandiri tercapai, namun dengan harga: ia menutup rapat bagian hati yang dulu pernah menyala terang bersama satu nama—Mo Eun‑ah, cinta pertamanya ketika mereka masih sama‑sama duduk di perpustakaan sekolah menjelang usia 20.

Mo Eun‑ah di masa kini adalah mantan hotelier yang banting setir menjadi pengelola rumah sewa kecil di Seoul, penuh semangat, hangat, dan terlihat seperti orang yang selalu punya rencana cadangan. Di permukaan, Eun‑ah tampak seperti perempuan yang tahu persis “di mana ia ingin berada, dengan siapa, dan bagaimana caranya sampai ke sana”, tapi di balik senyum ceria itu, ia menyimpan kelelahan dari serangkaian target hidup yang tidak selalu berjalan sesuai garis yang ia gambar sendiri. Pertemuan tak terduga dengan Tae‑seo setelah sepuluh tahun—di kereta yang sedang ia kemudikan, lalu di gang kecil dekat rumah sewanya—membuka kembali kotak yang selama ini ia kunci: kenangan tentang dua remaja yang saling menguatkan di perpustakaan, dan keputusan pahit yang dulu memaksa mereka mengambil jalur hidup berbeda.

Alur masa lalu dan masa kini disusun saling bersilang: di masa remaja, Tae‑seo adalah siswa pindahan dengan fokus kuat pada realita—ia harus lulus, dapat kerja, dan segera mandiri—sementara Eun‑ah adalah gadis yang masih berani bermimpi besar dengan melemparkan dirinya ke segala kesempatan tanpa pikir panjang. Mereka bertemu di perpustakaan sekolah saat sama‑sama kelelahan menghadapi ujian masuk universitas dan tekanan keluarga, pelan‑pelan menemukan “ruang aman” dalam obrolan‑obrolan kecil di antara rak buku. Hubungan itu tampak menuju romansa ideal, sampai sebuah krisis tak terduga datang: masalah ekonomi keluarga, keputusan pindah kota, dan pilihan universitas memaksa mereka berpisah bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena keduanya merasa harus mengorbankan sesuatu demi bertahan hidup.

Di masa kini, pertemuan kembali Tae‑seo dan Eun‑ah tidak otomatis romantis dan manis; justru dingin, kikuk, dan penuh tanda tanya. Keduanya sudah jadi orang dewasa dengan kebiasaan baru, kebal pada beberapa luka, tapi juga membawa bekas luka lama yang belum benar‑benar diobati—mereka saling mengukur jarak: apakah orang di hadapanku masih sama dengan yang dulu kujaga di dalam ingatan, atau hanya versi lain yang sudah jauh sekali dari remaja yang pernah berbagi dunia denganku? Perlahan, mereka kembali menemukan titik temu kecil: cara Tae‑seo masih mencatat hal‑hal sepele di buku saku, cara Eun‑ah masih suka tertawa sendiri saat membaca catatan lama, dan cara keduanya saling mengisi kekosongan yang selama ini mereka pura‑pura tidak rasakan.

Konflik utama “Still Shining” bukan sekadar “balikan atau tidak balikan”, tetapi bagaimana dua orang yang sudah tumbuh dan berubah berani jujur pada versi diri mereka hari ini, bukan hanya versi romantis yang mereka simpan di memori. Tae‑seo harus berdamai dengan kenyataan bahwa pilihannya untuk hidup “cukup dan aman” ternyata juga membuatnya berhenti bermimpi, sementara Eun‑ah perlu mengakui bahwa mengejar mimpi tanpa henti juga telah mengikis beberapa bagian dirinya yang dulu lembut. Drama ini membawa mereka ke serangkaian momen kecil: perjalanan kereta ke Seoul menghadiri sesi info kampus, diskusi larut malam di stasiun sepi, sampai debat hangat soal apa artinya “bahagia” ketika yang dulu mereka impikan sudah tidak utuh lagi.

Menjelang episode‑episode akhir, penonton diajak melihat apakah cahaya yang dulu pernah menyinari mereka sebagai sepasang remaja masih punya ruang di kehidupan dewasa yang penuh kompromi. “Still Shining” tidak menjanjikan akhir seperti dongeng, tapi lebih ke jawaban jujur: mungkin mereka tidak bisa kembali ke titik nol, tetapi bisa memilih apakah akan tetap berjalan berdampingan atau hanya saling menyapa sebagai bagian indah yang pernah ada. Fokusnya ada pada bagaimana mereka belajar menjadi sumber kepercayaan satu sama lain lagi, membangun dunia kecil baru yang lebih realistis namun tetap hangat—dunia di mana mereka boleh lelah, gagal, dan tetap merasa layak disayangi.

Rekomendasi Berita