Radikalisme di Dunia Maya: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda

  • 07 Mar 2026 12:08 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Kemajuan teknologi digital membawa banyak kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses informasi dan berkomunikasi. Namun di balik kemudahan tersebut, dunia maya juga menyimpan berbagai ancaman baru, salah satunya penyebaran paham radikalisme yang dapat menyasar generasi muda.

Fenomena ini menjadi perhatian dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 6 Maret 2026 bersama Komisioner KPAD Provinsi Bali, Ida Bagus Made Adnyana, SH. Dalam dialog tersebut terungkap bahwa paparan paham radikal kini tidak hanya terjadi di ruang nyata, tetapi juga berkembang melalui jaringan internet yang luas dan tanpa batas.

Melalui media sosial, forum daring, hingga berbagai platform komunikasi digital, penyebaran ideologi radikal dapat berlangsung secara cepat dan sulit terdeteksi. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang rentan karena pada usia tersebut mereka masih berada dalam proses pencarian jati diri dan cenderung mudah meniru informasi yang ditemui di internet.

Bahkan, dalam beberapa temuan, terdapat kasus anak-anak yang mulai terpapar paham radikalisme melalui dunia digital. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran karena konten yang beredar di internet dapat dengan mudah ditiru dan disebarkan kembali oleh pengguna lain tanpa melalui proses penyaringan informasi.

Selain itu, sifat internet yang tidak mengenal batas wilayah membuat berbagai konten radikal dapat menyebar dengan sangat cepat, bahkan lintas negara. Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman radikalisme di dunia maya tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan kecil, melainkan menjadi tantangan bersama dalam menjaga keamanan generasi muda.

Untuk mencegah hal tersebut, berbagai pihak terus melakukan langkah edukasi melalui program literasi digital. Edukasi ini bertujuan agar anak-anak, guru, dan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai bahaya konten radikal serta mampu mengenali tanda-tanda paparan sejak dini.

Pendekatan yang dilakukan terhadap anak yang telah terpapar juga berbeda dengan penanganan terhadap pelaku dewasa. Anak-anak dipandang sebagai individu yang masih membutuhkan pembinaan dan pendampingan, sehingga proses penanganan lebih menekankan pada pendekatan psikologis dan rehabilitasi.

Peran keluarga dan lingkungan pendidikan dinilai sangat penting dalam membangun kesadaran anak mengenai penggunaan internet yang sehat dan bertanggung jawab. Orang tua dan guru diharapkan dapat menjadi pendamping yang aktif dalam mengawasi aktivitas digital anak.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kesadaran bersama menjadi kunci utama untuk melindungi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif di dunia maya. Dengan literasi digital yang kuat dan pengawasan yang berkelanjutan, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara positif tanpa terjerumus pada ideologi yang membahayakan masa depan mereka.

Rekomendasi Berita