Mengapa Data Kekerasan Anak di Dunia Digital Sulit Dilacak

  • 07 Mar 2026 12:27 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk cara anak-anak berinteraksi dan mengakses informasi. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru dalam upaya melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di ruang digital. Salah satu tantangan terbesar adalah sulitnya melacak data kekerasan anak yang terjadi di dunia maya.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 6 Maret 2026, bersama Komisioner KPAD Provinsi Bali, Ida Bagus Made Adnyana, SH mengungkapkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di ranah digital sering kali sulit teridentifikasi secara jelas. Hal ini disebabkan oleh sifat internet yang tidak memiliki batas wilayah serta berbagai aktivitas yang berlangsung secara anonim. Akibatnya, banyak kasus yang tidak tercatat secara resmi atau sulit dilacak sumbernya.

Selain itu, tidak semua korban atau keluarga berani melaporkan kasus yang dialami. Faktor rasa malu, kekhawatiran terhadap stigma sosial, hingga ketidaktahuan tentang prosedur pelaporan membuat banyak kasus kekerasan terhadap anak tidak sampai ke pihak berwenang. Kondisi ini menyebabkan data yang tersedia sering kali belum mencerminkan situasi sebenarnya.

Ketua Tim Pengelola Opini Publik Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Bali, I Gusti Ayu Sukmawati, SS., MH juga menyebutkan bahwa pengumpulan data terkait kekerasan anak di dunia digital memerlukan kerja sama berbagai pihak. Penanganan kasus semacam ini tidak hanya melibatkan pemerintah daerah, tetapi juga aparat penegak hukum, lembaga perlindungan anak, serta institusi pendidikan.

Di sisi lain, karakter dunia digital yang terus berkembang juga menjadi tantangan tersendiri. Modus kejahatan di internet dapat berubah dengan cepat, sementara sistem pendataan dan penanganan sering kali membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

Upaya pencegahan pun terus dilakukan melalui peningkatan literasi digital di masyarakat. Program edukasi diberikan kepada anak-anak, guru, dan orang tua agar lebih memahami risiko yang mungkin muncul di dunia maya, sekaligus mendorong keberanian untuk melaporkan jika terjadi kasus kekerasan.

Para orang tua juga diharapkan lebih aktif dalam mengawasi aktivitas digital anak di rumah. Pendampingan yang baik dapat membantu anak memahami batasan dalam menggunakan internet serta memberikan rasa aman untuk berbagi jika mereka mengalami hal yang tidak menyenangkan di dunia maya.

Dengan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga, diharapkan upaya perlindungan anak di ruang digital dapat semakin diperkuat. Meski tantangan dalam melacak data kekerasan anak di dunia digital masih besar, langkah-langkah pencegahan dan edukasi menjadi kunci penting dalam menjaga keselamatan generasi muda di era teknologi.

Rekomendasi Berita