Penipuan Digital ternyata Tidak Selalu Menyasar Masyarakat Gaptek
- 10 Mar 2026 12:28 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID,Denpasar - Penipuan digital (online scams) semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan teknologi dan internet dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, korban penipuan tidak hanya berasal dari kelompok yang dianggap kurang memahami teknologi, tetapi juga orang-orang yang berpendidikan tinggi dan cerdas.
Fenomena ini terjadi karena banyak penipu tidak menyerang sistem komputer secara teknis, melainkan memanfaatkan kelemahan psikologis manusia melalui teknik rekayasa sosial (social engineering). Laporan dari Indonesia Baik yang mengutip Riset Nasional “Penipuan Digital di Indonesia: Modus, Medium, dan Rekomendasi”, mengungkap bahwa teknik memanipulasi emosi, persepsi, dan bias kognitif, membuat penipu dapat memengaruhi cara korban berpikir dan mengambil keputusan.
Strategi utama yang laszim digunakan oleh pelaku rekayasa sosial adalah memicu rasa takut (fear) pada korban. Mereka menciptakan skenario ancaman seperti pemblokiran rekening bank, pelanggaran hukum, atau peretasan akun yang harus segera ditangani.
Ketika seseorang berada dalam kondisi panik atau stres tinggi, kemampuan berpikir rasional dapat menurun. Aktivitas pada bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan rasional, seperti prefrontal cortex, dapat terganggu sehingga individu lebih mudah bereaksi secara emosional daripada logis.
Selain rasa takut, penipu juga memanfaatkan unsur urgensi (urgency) dalam pesan yang mereka kirimkan. Contohnya adalah peringatan bahwa akun akan ditutup dalam waktu singkat atau bahwa korban harus segera melakukan tindakan tertentu untuk menghindari kerugian.
Urgensi ini memaksa seseorang berpindah dari pemikiran analitis yang lambat dan rasional menuju pemikiran otomatis yang cepat. Dalam psikologi kognitif, proses ini dikenal sebagai peralihan dari Type 2 thinking ke Type 1 thinking, yang membuat individu cenderung mengambil keputusan tanpa memverifikasi informasi secara mendalam.
Bias otoritas (authority bias) juga menjadi alat manipulasi yang sangat efektif dalam penipuan digital. Penipu sering menyamar sebagai figur berwenang seperti petugas bank, aparat penegak hukum, atau bahkan atasan di tempat kerja.
Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk mematuhi atau mempercayai figur otoritas. Dengan menggunakan logo resmi, bahasa formal, atau identitas yang tampak kredibel, penipu dapat menciptakan ilusi legitimasi yang membuat korban merasa perlu mengikuti instruksi tersebut.
Selain itu, penipu juga memanfaatkan fenomena FOMO (fear of missing out) atau rasa takut kehilangan kesempatan. Dalam konteks ini, korban ditawari peluang investasi eksklusif, hadiah terbatas, atau keuntungan besar yang tampaknya hanya tersedia dalam waktu singkat.
Situasi tersebut dapat memicu keserakahan atau keinginan mendapatkan keuntungan cepat. Aktivasi sistem penghargaan (reward circuitry) dalam otak membuat seseorang lebih fokus pada potensi keuntungan daripada risiko penipuan yang mungkin terjadi.
Manipulasi emosi juga sering dilakukan melalui pembangunan hubungan atau kepercayaan terlebih dahulu. Contohnya dapat ditemukan dalam romance scam atau phishing yang berpura-pura menawarkan bantuan kepada korban.
Ironisnya, orang yang cerdas sering kali memiliki kepercayaan diri tinggi terhadap kemampuan mereka dalam mendeteksi penipuan. Bias kepercayaan diri berlebih (overconfidence bias) ini dapat membuat mereka mengabaikan tanda-tanda peringatan atau red flags yang sebenarnya cukup jelas.
Faktor lain yang meningkatkan kerentanan terhadap penipuan adalah kelelahan mental atau fatigue dalam pengambilan keputusan. Individu yang sibuk atau sering menghadapi banyak keputusan sehari-hari cenderung memilih solusi yang cepat dan praktis tanpa analisis mendalam.
Langkah perlindungan sederhana namun efektif untuk mengantisipasi jenis kejahatan ini dengan menerapkan prinsip “Stop, Look, Think”. Metode "Stop, Look, Think" merupakan pengembangan dari kampanye global "STOP. THINK. CONNECT." yang diluncurkan pada Oktober 2010. Metode respon ini bisa diterapkan menjadi kebiasaan awal sebelum merespons pesan, khususnya pesan yang mencurigakan. Selain itu, verifikasi informasi melalui saluran resmi serta kesadaran bahwa siapa pun bisa menjadi korban merupakan kunci untuk mengurangi risiko penipuan digital.