Tradisi dan Medis: Menakar Kebenaran Anjuran Berbuka dengan yang Manis

  • 10 Mar 2026 20:54 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Slogan "Berbukalah dengan yang Manis" telah mendarah daging dalam budaya masyarakat Indonesia. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan risiko diabetes dan obesitas, para pakar kesehatan kembali meluruskan pemahaman mengenai jenis rasa manis apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh setelah belasan jam berpuasa.

Banyak yang mengira slogan ini adalah kutipan langsung dari hadis, namun secara literasi agama, anjuran Nabi Muhammad SAW adalah berbuka dengan Ruthab (kurma basah), Tamr (kurma kering), atau air putih.

Mengutip penjelasan dari Kementerian Agama RI, istilah "berbukalah dengan yang manis" sebenarnya lebih merupakan strategi pemasaran produk sirup dan minuman di era 80-an yang kemudian menyatu dengan tradisi lokal. Secara esensi, yang dimaksud adalah mengembalikan energi dengan cepat.

Mengapa harus manis? Berdasarkan penjelasan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), selama berpuasa kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh menurun drastis. Rasa manis dari gula adalah sumber energi tercepat untuk menaikkan kembali kadar glukosa tersebut.

Namun, terdapat catatan krusial :

Manis Alami (Disarankan): Berasal dari buah-buahan seperti kurma, pisang, atau semangka. Kurma mengandung serat dan kalium yang mencegah lonjakan gula darah secara mendadak (sugar spike).

Manis Buatan (Batasi): Minuman kaleng, sirup dengan pemanis buatan, atau gorengan manis. Jenis ini memberikan energi instan namun cepat hilang, membuat tubuh lemas kembali, dan jika berlebih, memicu penumpukan lemak.

Laporan kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menyoroti fenomena "Balas Dendam" saat berbuka. Mengonsumsi kolak, es campur, dan kue manis dalam porsi besar sekaligus saat perut kosong dapat memicu kerja pankreas yang sangat berat untuk menghasilkan insulin. Dalam jangka panjang, kebiasaan "manis berlebihan" saat berbuka menjadi salah satu faktor risiko utama pemicu diabetes tipe 2 di Indonesia.

Pakar nutrisi menyarankan rumus "Tiga Tahap Berbuka":

Air Putih: Memulihkan hidrasi terlebih dahulu.

Manis Alami: Satu hingga tiga butir kurma untuk energi instan yang stabil.

Jeda Sholat: Memberikan waktu bagi lambung untuk beradaptasi sebelum masuk ke hidangan utama yang mengandung karbohidrat kompleks dan protein.

Berbuka dengan yang manis memang benar secara fisiologis untuk mengembalikan energi, namun jenis manisnya haruslah bijak. Kesehatan jangka panjang jauh lebih penting daripada sekadar memuaskan dahaga sesaat dengan gula berlebih. Manisnya kurma adalah pilihan terbaik, namun air putih tetaplah raja dari segala minuman saat berbuka.

Rekomendasi Berita