Sejarah Nasi Jinggo, Sajian Sederhana yang Melegenda
- 07 Mar 2026 20:59 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Siapa sangka makanan yang dibandrol harga mulai dari Rp.5.000 bisa menjadi hidangan populer di kalangan masyarakat Bali. Nasi Jinggo adalah makanan yang dikenal dengan porsi kecil dan biasanya dijual pada malam hari.
Melansir dari CNN Indonesia, Nasi jinggo memiliki cita rasa khas yang membuatnya digemari oleh berbagai kalangan baik lokal maupun wisatawan. Keberadaan Nasi Jinggo bahkan telah menjadi bagian dari budaya kuliner sehari-hari bagi masyarakat Bali karena mudah ditemukan.
Secara tampilan, nasi jinggo umumnya terdiri dari nasi putih dengan lauk sederhana. Lauk terdiri dari ayam suwir pedas, mie goreng, sambal, dan tambahan lain seperti tempe orek atau serundeng.
Keunikan dari Nasi Jinggo karena dibungkus menggunakan daun pisang yang menghasilkan aroma khas. Meskipun porsinya kecil, perpaduan lauk dan sambal memberikan cita rasa yang menggugah selera.
Mengutip dari detik.com, salah satu pendapat menyebutkan bahwa kata “jinggo” berasal dari bahasa hokkien, yaitu “jeng go” (seribu lima ratus rupiah). Versi lain juga menyebutkan bahwa Nasi Jinggo terinspirasi dari film koboi klasik “Django” yang populer di era 1980-an.
Mengutip dari Kompas.com, Nasi Jinggo mulai berkembang di Denpasar sekitar tahun 1980-an. Pada saat itu, banyak pedagang yang menjual Nasi Jinggo di malam hari agar masyarakat mudah mencari makanan yang praktis dan terjangkau. Harga yang murah membuat Nasi Jinggo menjadi favorit bagi pekerja, mahasiswa, maupun masyarakat yang beraktivitas hingga larut malam.
Seiring berjalannya waktu, Nasi Jinggo bukan hanya menjadi makanan pangganjal di malam hari. Nasi jinggo kini sudah berkembang menjadi salah satu ikon kuliner bali yang ditemukan hampir di setiap sudut kota di bali. Banyak restoran juga saat ini yang menjadikan Nasi Jinggo sebagai menu utama.
Nasi jinggo kini juga memiliki berbagai variasi lauk seperti tambahan telur, sate lilit, perkedel jagung, hingga kulit ayam goreng. Kehadirannya membuktikan bahwa makanan sederhana dapat bertahan lama dan menjadi identitas kuliner suatu daerah.