Awalnya Kesulitan Mengenal Karakter Monyet

  • 13 Mar 2026 14:24 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID., Denpasar : Sangeh Mongkey Forest merupakan destinasi wisata alam yang ada di Kabupaten Badung. Sangeh Mongkey Forest juga dikenal dengan nama Alas Pala. Di tempat ini menjadi tempat atau habitat Monyet atau Kera penghuni Alas Pala. Monyet atau Kera yang ada di tempat ini tergolong jinak. Hal ini dibenarkan oleh salah satu staff pengelola Sangeh Mongkey Forest, I Gusti Sri Wiadnyani.

Wiadnyani yang asli dari Petang Badung ini merasa beruntung karena dapat bekerja di Sangeh Mongkey Forest. Ia mengaku sudah bekerja di tempat ini kurang lebih 1,5 tahun. Menurutnya, kesulitan pertama yang saya hadapi di awal adalah sulit berinteraksi dengan satwa atau monyet di sini. Hal ini disebabkan Monyet termasuk binatang liar.

"Apalagi monyetnya gede pasti membuat takut. Ketika kita belum tahu bagaimana karakternya pasti kita menganggap semua monyet sama. Tetapi, di sini tidak semua seperti itu. Ada memang beberapa yang nakal dan ada beberapa juga yang bisa diajak untuk berinteraksi ke orang-orang, tuturnya saat diwawancarai oleh RRI Denpasar di Sangeh Mongkey Forest belum lama ini,"ucapnya.

‘Itu saja si awal kesulitan di sini yaitu mengenali karakter si monyet-monyet ini. Yang mana baik untuk wisatawan, yang mana yang tidak baik. Untuk mengenali karakter monyet-monyet ini memang perlu waktu. Waktu itu saya belajar selama 3 bulan untuk mengenali karakter dan menghafal yang mana-mana saja monyet yang nakal dan mana yang baik menurut senior di sini”, jelasnya.

Ia mengatakan, kalau untuk memberi makan dirinya sudah berani, tetapi kadang-kadang masih ada rasa takut. "Tetapi kita harus berani karena kita harus menyakinkan pengunjung juga. Jadi yang awalnya takut jadi berani untuk bermain bersama mereka. Biasanya kita carikan yang kecil-kecil jangan yang gede. Selain itu, kita harus tetap menjaga keselamatan wisatawan dan pengunjung di sini, " ujarnya.

Wiadnyani mengaku senang bekerja di tempat ini karena banyak kelebihannya. Pertama dekat dengan rumah. Jadi untuk biaya-biaya apapun bisa hemat. Kedua, bisa setiap hari berinteraksi dengan Binatang, berinteraksi dengan alam. "Sekarang ini kan kita krisis oksigen, tetapi kita di sini masih bisa menghirup udara segar setiap pagi di Tengah hiruk pikuknya kendaraan dan polusi udara. Ketiga, bisa bertemu banyak orang yang berbeda-beda setiap harinya, " ucapnya.

Rekomendasi Berita