Tradisi Tangkap Ipu, Berkah Pesisir Ende

  • 16 Feb 2026 11:23 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Beberapa hari terakhir, pesisir selatan Ende tampak lebih ramai dari biasanya. Di Muara Nanganesa hingga ke arah barat di Muara Nangaba, warga berbondong-bondong turun ke air menangkap ipu, sebutan lokal untuk ikan halus yang hadir musiman setiap Januari hingga akhir Maret.

Di kaki muara, tempat pertemuan laut dan kali, riak air yang bergerak cepat menjadi pertanda kedatangan ipu. Warga pun sigap membawa ember, baskom, hingga jaring kecil. Anak-anak, orang tua, laki-laki dan perempuan, larut dalam suasana kebersamaan yang jarang ditemui di hari biasa.

Armin, warga Woloweku, mengaku datang bersama teman-temannya ke muara untuk menangkap ipu. Ia mengatakan mereka membawa peralatan jaring yang dirancang khusus agar lebih mudah menangkap ikan halus tersebut.

“Kalau lagi musim begini, hasilnya bisa banyak sekali. Hari ini hampir dua ember. Sebagian kami bagi ke keluarga dan tetangga,” ujarnya.

Baginya, menangkap ipu bukan semata soal hasil, tetapi juga soal kebersamaan dan berbagi rezeki. Sementara itu, Abdul merasakan berkah ekonomi dari musim tahunan ini.

Ia kemudian menjual hasil tangkapannya kepada warga lain di sekitar muara. Harga yang ditawarkan Rp10.000 untuk tiga gelas ipu.

“Lumayan untuk tambah uang belanja. Kalau lagi ramai begini, cepat sekali habis,” katanya sambil menakar ipu ke dalam gelas plastik.

Musim ipu memang menjadi denyut ekonomi kecil yang bergerak cepat di pesisir. Tanpa modal besar, warga bisa memperoleh tambahan penghasilan dari alam yang memberi.

Fenomena ini juga menarik perhatian generasi muda. Kristin dan Zehan, mahasiswa Universitas Flores (Uniflor), datang ke Nanganesa bukan untuk menangkap, melainkan untuk melihat langsung prosesnya.

“Selama ini kami hanya menikmati setelah dimasak ibu di rumah. Baru kali ini lihat sendiri bagaimana orang-orang menangkapnya,” ungkap Kristin.

Bagi mereka, pengalaman itu menjadi pelajaran tentang tradisi lokal yang masih terjaga. Selain bernilai ekonomi dan sosial, tradisi menangkap ipu juga sarat kearifan budaya.

Masyarakat masih memegang pantangan, yakni keluarga yang istrinya sedang hamil tidak diperkenankan ikut menangkap. Konon, jika dilanggar, ipu akan menghilang kembali ke laut lepas.

Kepercayaan ini dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan harmoni dengan alam. Penangkapan dilakukan secara sederhana dan ramah lingkungan, tanpa bahan berbahaya atau alat berat.

Warga hanya memanfaatkan musim alami yang datang silih berganti. Dari Muara Nanganesa hingga Muara Nangaba, kisah ipu bukan sekadar tentang ikan-ikan kecil yang melompat di kaki muara.

Ia adalah cerita tentang kebersamaan dan semangat berbagi rezeki di tengah masyarakat. Tradisi ini juga menjadi denyut ekonomi rakyat sekaligus wujud kearifan lokal yang terus hidup di pesisir selatan Ende.




Rekomendasi Berita