Lewotana, Filosofi Lamaholot Jaga Lingkungan

  • 18 Feb 2026 11:14 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Kearifan lokal budaya Lamaholot dinilai memiliki nilai kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Hal tersebut mengemuka dalam Obrolan Kesehatan program Bincang Budaya Pro1 RRI Ende, Jumat, 13 Februari 2026.

Narasumber Silvester Petara Hurint, budayawan sekaligus sutradara Nara Teater asal Lamaholot, Flores Timur, menjelaskan masyarakat Lamaholot memiliki ikatan batin yang erat dengan alam semesta melalui konsep “Lewotana”.

Secara harfiah, Lewotana berarti kampung halaman. Namun, maknanya mencakup jagat lahir dan batin sebagai ruang sakral yang menuntut hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Ia menjelaskan dalam kosmologi Lamaholot dikenal konsep Rera Wulan Tanah Ekan sebagai realitas tertinggi atau Tuhan, yang terintegrasi dengan alam lingkungan. Alam dipandang sebagai bagian dari kesucian yang harus dijaga oleh setiap anggota masyarakat.

Selain itu, terdapat keyakinan terhadap Guna Dewa atau dewa-dewi alam serta penghormatan kepada leluhur. Hubungan yang selaras diyakini menghadirkan keseimbangan hidup bagi manusia.

Masyarakat juga mengenal istilah Uli Eka, yakni wilayah adat dengan batas teritori yang jelas. Kesadaran terhadap batas tersebut mencegah tindakan eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.

Menurut Silvester, pemahaman kosmologi ini membentuk etika ekologis yang diwariskan turun-temurun. Ia berharap generasi muda dapat mengadopsi nilai budaya tersebut sebagai fondasi dalam menjaga kelestarian ekosistem di tengah tantangan modernisasi.

Rekomendasi Berita