Wamenkomdigi: AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Berpikir
- 08 Feb 2026 14:39 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia. Ketergantungan berlebihan terhadap AI dinilai berpotensi melemahkan daya analisis dan sikap kritis, terutama di kalangan mahasiswa.
Pernyataan tersebut disampaikan Nezar Patria saat menerima audiensi Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Februari 2026. Ia menekankan AI boleh dimanfaatkan untuk membantu riset atau pemecahan masalah, namun analisis akhir tetap harus dilakukan oleh manusia.
Nezar menyoroti fenomena penggunaan AI oleh mahasiswa yang cenderung langsung menyalin hasil tanpa proses pengolahan ulang. Menurutnya, hasil yang diberikan AI tidak bisa serta-merta dianggap sebagai kebenaran, karena tetap membutuhkan verifikasi, parafrase, dan penalaran kritis dari penggunanya.
Ia mencontohkan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri yang mulai kembali menerapkan metode penilaian klasik, seperti penulisan esai dengan tangan, untuk memastikan kemampuan analitik mahasiswa tetap terjaga di tengah perkembangan teknologi digital.
Dalam kesempatan tersebut, Nezar mengapresiasi inisiatif Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University yang berencana melakukan riset literasi AI di kalangan pelajar dan mahasiswa. Riset tersebut dinilai penting untuk memetakan kesiapan generasi muda dalam berinteraksi dengan AI serta mengukur tingkat sikap kritis mereka terhadap teknologi tersebut.
Nezar berharap hasil riset dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah yang lebih tepat sasaran terkait pemanfaatan AI di dunia pendidikan. Menurutnya, AI seharusnya menjadi mitra manusia dalam berpikir dan berkarya, bukan menggantikan peran intelektual yang menjadi inti dari proses pendidikan.