Cakupan Imunisasi Rendah Picu Lonjakan Kasus Campak di Indonesia
- 09 Mar 2026 09:09 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Memasuki awal tahun 2026, Indonesia dikejutkan dengan laporan ribuan kasus campak yang melonjak drastis hanya dalam waktu dua bulan. Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam Obrolan Kesehatan Program Indonesia Sehat Pro1 RRI Ende bersama dr. Ardanta Dat Topik Tarigan, M.Biomed, Sp.A., Jumat, 6 Maret 2026.
Data menunjukkan cakupan imunisasi nasional baru menyentuh angka 65 persen, padahal target ideal untuk membentuk kekebalan kelompok adalah 95 persen. Dokter Ardanta menyebutkan ketidaktahuan masyarakat dan keberadaan mitos negatif menjadi penghambat utama tercapainya target perlindungan tersebut.
Rendahnya partisipasi ini sering kali dipicu oleh sikap apatis orang tua yang menganggap imunisasi tidak mendesak untuk dilakukan. Padahal, tanpa perlindungan vaksin, risiko penularan di lingkungan anak-anak akan tetap tinggi dan sulit dikendalikan.
Dokter Ardanta menjelaskan bahwa kekhawatiran orang tua terhadap efek samping seperti demam pasca-suntikan sering kali berlebihan. Munculnya reaksi tubuh setelah vaksinasi sebenarnya adalah tanda alami bahwa sistem imun sedang merespons benda asing yang masuk.
Gejala yang muncul pasca-imunisasi umumnya bersifat ringan dan dikenal dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Keluhan ini biasanya hanya berlangsung selama satu hingga tiga hari dan dapat ditangani dengan mudah di rumah.
Penanganan medis untuk gejala ringan seperti demam cukup dilakukan secara simptomatik, misalnya dengan memberikan parasetamol sesuai dosis. Jika terjadi nyeri atau kemerahan pada area suntikan, orang tua disarankan melakukan kompres hangat untuk memberikan kenyamanan.
Masyarakat diminta tidak perlu takut secara berlebihan karena kasus efek samping yang berat atau fatal sangat jarang ditemukan. Edukasi yang benar mengenai reaksi vaksin diharapkan mampu menghilangkan keraguan orang tua dalam membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Peningkatan kesadaran kolektif adalah kunci utama untuk mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi yang saat ini masih di bawah standar. Dengan pemahaman yang tepat, lonjakan kasus campak di tahun 2026 ini diharapkan dapat segera diredam demi keselamatan anak bangsa.