Momen Hangat Wisatawan dan Petani Wae Lolos
- 03 Mar 2026 09:07 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Suasana pagi di Desa Wisata Wae Lolos terasa berbeda dari biasanya. Di antara hamparan perkebuanan Nenas udara segar khas perbukitan Flores, tawa hangat terdengar dari Pondok . Sejumlah wisatawan tampak berbaur bersama para petani, belajar menanam Nenas, memanen hasil kebun, hingga sekadar berbincang tentang kehidupan desa.
Momen sederhana ini menjadi potret indah bagaimana pariwisata berbasis masyarakat tumbuh dengan sentuhan kemanusiaan. Interaksi yang terjalin bukan sekadar aktivitas wisata, melainkan pengalaman autentik yang menyentuh hati.
Wisatawan diajak mengenal proses bertani secara tradisional, mulai dari mengola lahan kering , menanam bibit, hingga memahami sistem pertanian ramah lingkungan yang diwariskan turun-temurun. Para petani pun dengan ramah berbagi cerita tentang musim tanam, tantangan cuaca, hingga makna gotong royong dalam kehidupan mereka.
Ketua Pokdarwis Desa Wae Lolos, Robert Perkasa, menilai interaksi langsung antara wisatawan dan masyarakat adalah kekuatan utama Wae Lolos. Menurutnya, kehangatan dan keterlibatan aktif wisatawan dalam kehidupan sehari-hari warga menjadi daya tarik tersendiri yang tidak bisa ditemukan di destinasi lain.
“Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat pemandangan, tetapi untuk merasakan kehidupan desa yang sebenarnya. Ketika mereka ikut turun kekebun , bercengkerama dengan petani, ada hubungan emosional yang tercipta. Ini sangat baik untuk keberlangsungan pariwisata Wae Lolos,” ujarnya.
Konsep pariwisata yang dikembangkan di Wae Lolos memang menekankan pada pengalaman berbasis komunitas (community-based tourism). Warga desa menjadi pelaku utama, mulai dari penyediaan homestay, pemandu wisata lokal, hingga penyedia kuliner tradisional. Dengan demikian, manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tak sedikit wisatawan mengaku terkesan dengan keramahan warga. Mereka merasa diterima sebagai bagian dari keluarga, bukan sekadar tamu. Seusai bekerja di kebun, wisatawan diajak menikmati hidangan lokal hasil kebun sendiri, sambil mendengarkan cerita rakyat dan tradisi setempat di beranda rumah panggung.
Kehadiran wisatawan juga membawa dampak positif bagi para petani. Selain menambah pendapatan melalui paket wisata edukasi pertanian, mereka merasa pekerjaan yang selama ini dianggap biasa justru memiliki nilai lebih di mata pengunjung.
Menurutnya, langkah ini dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap profesi dan budaya lokal. Ke depan, masyarakat dan pengelola desa berkomitmen untuk terus menjaga keseimbangan antara kunjungan wisata dan kelestarian alam.
Edukasi tentang pertanian berkelanjutan serta pelestarian budaya menjadi fokus utama agar pariwisata tidak menggerus identitas desa. Momen hangat antara wisatawan dan petani di Desa Wisata Wae Lolos menjadi bukti bahwa pariwisata yang tumbuh dari akar budaya dan kebersamaan akan lebih bertahan lama.
Seperti yang disampaikan Robert Persaka, keberlangsungan pariwisata bukan hanya soal jumlah kunjungan, tetapi tentang hubungan manusia yang tulus dan saling menghargai.