Autofagi saat Puasa Proses Alami Tubuh Membersihkan dan Memperbarui Sel Rusak

  • 23 Feb 2026 13:53 WIB
  •  Entikong

RRI.CO.ID, Entikong - Autofagi adalah proses alami di dalam tubuh yang berfungsi untuk membersihkan sel-sel yang rusak dan mendaur ulang komponen sel yang sudah tidak optimal. Istilah autofagi berasal dari bahasa Yunani, yaitu auto (diri sendiri) dan phagy (memakan), yang berarti memakan diri sendiri, meski terdengar ekstrem, proses ini justru sangat penting untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan fungsi tubuh.

Saat seseorang berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam jangka waktu tertentu, kondisi ini membuat kadar gula darah dan insulin menurun ketika cadangan energi dari makanan mulai berkurang, tubuh akan mencari sumber energi alternatif. Pada fase inilah autofagi mulai aktif, karena tubuh beralih menggunakan cadangan lemak dan mendaur ulang komponen sel yang tidak lagi efisien.

Secara ilmiah, konsep autofagi pertama kali dijelaskan oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang kemudian dianugerahi Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2016 atas penelitiannya mengenai mekanisme autofagi. Penemuan ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana sel bertahan hidup saat kekurangan nutrisi dan bagaimana proses ini berperan dalam pencegahan berbagai penyakit.

Dalam kondisi puasa, tubuh biasanya mulai meningkatkan aktivitas autofagi setelah 12 sampai 16 jam tanpa asupan kalori, meski waktu pastinya bisa berbeda pada setiap individu. Ketika autofagi aktif, sel akan menghancurkan bagian-bagian yang rusak, seperti protein yang salah lipat atau organel sel yang tidak berfungsi dengan baik hasil daur ulang ini kemudian digunakan kembali sebagai sumber energi atau bahan pembentuk sel baru.

Manfaat autofagi cukup luas, proses ini dikaitkan dengan peningkatan kesehatan metabolik, perlindungan terhadap penyakit degeneratif, hingga perlambatan proses penuaan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa autofagi berperan dalam menjaga fungsi otak dan membantu tubuh melawan infeksi dengan kata lain, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan perawatan internal.

Namun, penting dipahami bahwa autofagi bukan alasan untuk berpuasa secara ekstrem tanpa pengawasan. Puasa yang sehat tetap harus memperhatikan kondisi tubuh, asupan nutrisi saat berbuka, serta kebutuhan cairan, orang dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes atau gangguan makan, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalani pola puasa tertentu.

Secara keseluruhan, proses autofagi saat puasa menunjukkan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme cerdas untuk beradaptasi terhadap perubahan asupan energi. Dengan menjalani puasa yang tepat dan seimbang, tubuh tidak hanya beristirahat dari proses pencernaan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dari tingkat seluler, inilah salah satu alasan mengapa puasa sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan yang lebih luas, baik secara fisik maupun metabolik.

Rekomendasi Berita