Jejak Leluhur di Bulan Suci

  • 15 Feb 2026 20:13 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO,ID,Gorontalo - Di daerah berjuluk Bumi Serambi Madinah, masyarakat Gorontalo menyambut bulan suci Ramadan dengan rangkaian tradisi sarat makna. Ritual-ritual ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud perpaduan antara kedalaman spiritualitas Islam dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus dijaga lintas generasi.

Berikut potret keunikan tradisi masyarakat Gorontalo dalam menjemput bulan penuh berkah.

Mongaruwa: Doa untuk Leluhur

Sebagai pembuka, warga Gorontalo menggelar Mongaruwa atau doa arwah. Tradisi sakral ini hampir tak pernah dilewatkan menjelang Ramadan. Mongaruwa menjadi momen untuk mendoakan anggota keluarga yang telah berpulang agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Doa bersama atau tahlilan dipimpin oleh seorang imam, yang dalam bahasa Gorontalo disebut ti imamu . Selain memperkuat dimensi spiritual, Mongaruwa juga mempererat ikatan kekeluargaan.

Tradisi ini terasa belum lengkap tanpa hidangan khas seperti nasi kuning, pisang, dan tiliaya—panganan manis berbahan dasar telur dan gula aren. Sajian tersebut menjadi simbol harapan agar ibadah Ramadan yang dijalani terasa manis dan penuh keberkahan.

Langgilo: Mensucikan Perlengkapan Ibadah

Tak hanya jiwa dan raga yang dipersiapkan, perlengkapan ibadah pun mendapat perhatian khusus melalui tradisi Langgilo. Ritual ini dilakukan dengan mencuci perlengkapan salat menggunakan air rebusan rempah.

Ramuan alami yang terdiri dari daun pandan, sereh wangi, nilam, dan daun kunyit dipercaya menghadirkan aroma menenangkan. Suasana ibadah pun terasa lebih khusyuk dan segar, mencerminkan kesiapan lahir dan batin dalam menyambut Ramadan.

Mohimelu: Menyambut dengan Sukacita

Ramadan juga disambut dengan kegembiraan melalui tradisi Mohimelu. Dalam bahasa Gorontalo, kata dasarnya adalah Himelu yang berarti menyapa atau menyambut.

Pada malam pertama yang disebut Huwi lo Himelu, keluarga-keluarga biasanya menyembelih ayam untuk santap sahur perdana. Di wilayah pedesaan, suasana semakin hangat dengan tradisi saling berbagi ayam kepada kerabat. Jalanan desa pun kerap dipenuhi warga yang membawa ayam sebagai simbol kebersamaan dan sukacita menyambut hari pertama puasa.

Bacoho: Simbol Penyucian Diri

Tradisi Bacoho dimaknai sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan penuh rahmat. Ritual ini bukan sekadar keramas biasa, melainkan membersihkan rambut menggunakan sampo alami dari racikan dedaunan wangi.

RRI.CO.ID,Gorontalo - Di daerah berjuluk Bumi Serambi Madinah, masyarakat Gorontalo menyambut bulan suci Ramadan dengan rangkaian tradisi sarat makna. Ritual-ritual ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wujud perpaduan antara kedalaman spiritualitas Islam dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus dijaga lintas generasi.

Berikut potret keunikan tradisi masyarakat Gorontalo dalam menjemput bulan penuh berkah.

Mongaruwa: Doa untuk Leluhur

Sebagai pembuka, warga Gorontalo menggelar Mongaruwa atau doa arwah. Tradisi sakral ini hampir tak pernah dilewatkan menjelang Ramadan. Mongaruwa menjadi momen untuk mendoakan anggota keluarga yang telah berpulang agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Doa bersama atau tahlilan dipimpin oleh seorang imam, yang dalam bahasa Gorontalo disebut ti imamu. Selain memperkuat dimensi spiritual, Mongaruwa juga mempererat ikatan kekeluargaan.

Tradisi ini terasa belum lengkap tanpa hidangan khas seperti nasi kuning, pisang, dan tiliaya—panganan manis berbahan dasar telur dan gula aren. Sajian tersebut menjadi simbol harapan agar ibadah Ramadan yang dijalani terasa manis dan penuh keberkahan.

Langgilo: Mensucikan Perlengkapan Ibadah

Tak hanya jiwa dan raga yang dipersiapkan, perlengkapan ibadah pun mendapat perhatian khusus melalui tradisi Langgilo. Ritual ini dilakukan dengan mencuci perlengkapan salat menggunakan air rebusan rempah.

Ramuan alami yang terdiri dari daun pandan, sereh wangi, nilam, dan daun kunyit dipercaya menghadirkan aroma menenangkan. Suasana ibadah pun terasa lebih khusyuk dan segar, mencerminkan kesiapan lahir dan batin dalam menyambut Ramadan.

Mohimelu: Menyambut dengan Sukacita

Ramadan juga disambut dengan kegembiraan melalui tradisi Mohimelu. Dalam bahasa Gorontalo, kata dasarnya adalah Himelu yang berarti menyapa atau menyambut.

Pada malam pertama yang disebut Huwi lo Himelu, keluarga-keluarga biasanya menyembelih ayam untuk santap sahur perdana. Di wilayah pedesaan, suasana semakin hangat dengan tradisi saling berbagi ayam kepada kerabat. Jalanan desa pun kerap dipenuhi warga yang membawa ayam sebagai simbol kebersamaan dan sukacita menyambut hari pertama puasa.

Bacoho: Simbol Penyucian Diri

Tradisi Bacoho dimaknai sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan penuh rahmat. Ritual ini bukan sekadar keramas biasa, melainkan membersihkan rambut menggunakan sampo alami dari racikan dedaunan wangi.

Kelapa parut, kulit jeruk, dan daun nilam dicincang lalu dibakar dengan bara tempurung kelapa untuk mengeluarkan minyak dan aroma esensialnya. Prosesi ini melambangkan kesiapan fisik sekaligus spiritual dalam menyambut Ramadan.

Tonggeyamo: Penetapan Awal Ramadan Berbalut Adat

Penentuan awal puasa dilakukan melalui tradisi Tonggeyamo, yang dapat disamakan dengan sidang isbat berbalut adat. Mengutip melalui kanal gorontalo.indozone.id, Tonggeyamo digelar di rumah dinas atau Yiladia lo Dulohupa.

Dalam prosesi ini, para pemimpin daerah dan pemangku adat berkumpul mengenakan pakaian adat Gorontalo untuk menetapkan awal Ramadan secara resmi bagi masyarakat setempat. Tradisi ini menjadi simbol sinergi antara nilai agama dan adat dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.

Melalui rangkaian tradisi tersebut, Ramadan di Gorontalo bukan sekadar momentum ibadah, melainkan perayaan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta pelestarian identitas budaya yang terus hidup di tengah arus modernisasi.

Rekomendasi Berita