Ribuan Lampion, Sejuta Makna

  • 15 Feb 2026 23:44 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Cap Go Meh, yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, adalah puncak perayaan yang sarat makna dalam tradisi Tionghoa. Di Nusantara, festival ini berkembang menjadi “pesta rakyat” yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, menyatukan unsur religius, akal cerdik leluhur, hingga akulturasi budaya lokal.

Dua Versi Sejarah Cap Go Meh

Sejarah Cap Go Meh memiliki dua versi paling populer, masing-masing menawarkan perspektif unik tentang asal-usul perayaan ini seperti yang dilansir dari tokogunungagung.co.id :

1. Penghormatan kepada Buddha pada Dinasti Han

Pada masa Kaisar Han Ming Di, terdapat tradisi para biksu menyalakan lampion pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar untuk menghormati Sang Buddha. Cahaya lampion dianggap sebagai simbol penerangan spiritual dan penghormatan terhadap ajaran Buddha. Melihat praktik ini, Kaisar Han Ming Di memerintahkan seluruh istana dan rakyat untuk ikut menyalakan lampion. Ritual ini lambat laun berkembang menjadi perayaan rakyat yang meriah, melibatkan arak-arakan, pertunjukan seni, dan kegiatan sosial, sehingga menjadi bagian dari identitas budaya Tionghoa yang terus hidup hingga saat ini.

2. Taktik Menipu Kaisar Giok (Legenda Rakyat)

Selain versi sejarah resmi, Cap Go Meh juga memiliki akar cerita rakyat yang penuh kecerdikan. Konon, Kaisar Giok, penguasa langit, murka karena angsa kesayangannya dibunuh oleh penduduk sebuah desa. Seorang pria bijak menyarankan warga untuk menggantung lampion merah dan menyalakan api unggun sehingga dari langit, desa tampak seolah terbakar. Strategi ini menipu Kaisar Giok, yang kemudian membatalkan hukuman bagi desa tersebut. Sejak saat itu, penduduk menyalakan lampion setiap tahun sebagai simbol keselamatan, perlindungan, dan kecerdikan leluhur dalam menghadapi bahaya.

Cap Go Meh di Nusantara: Simbol Harmoni dan Akulturasi

Budayawan dan pengamat budaya Tionghoa-Indonesia menekankan bahwa Cap Go Meh bukan sekadar festival lampion, melainkan simbol harmoni sosial, akulturasi budaya, dan spiritualitas:

1. Fungsi Sosial yang Inklusif

Berbeda dengan perayaan Imlek yang lebih bersifat privat dan berfokus pada keluarga inti, Cap Go Meh bersifat publik dan inklusif. Di kota-kota seperti Singkawang dan kawasan Glodok di Jakarta, masyarakat dari berbagai etnis berkumpul untuk menyaksikan arak-arakan Toa Pe Kong, Barongsai, dan pertunjukan seni lainnya. Cap Go Meh menjadi momen persatuan, di mana tradisi Tionghoa dan lokal saling bertemu dalam satu perayaan besar.

2. Akulturasi Kuliner: Lontong Cap Go Meh

Cap Go Meh juga menampilkan adaptasi kuliner yang khas. Hidangan lontong Cap Go Meh lahir dari perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa. Pendatang Tionghoa di Jawa mengganti yuanxiao (ronde) dengan lontong, disajikan bersama opor ayam, sambal goreng hati, dan telur pindang. Kombinasi ini menciptakan “pernikahan rasa” yang unik, memperlihatkan kemampuan masyarakat Tionghoa untuk beradaptasi dengan tradisi lokal sambil mempertahankan identitas kulinernya.

3. Ritual Tolak Bala: Tatung dan Pembersihan Kota

Di Singkawang, atraksi Tatung bukan sekadar pertunjukan keberanian atau kekebalan tubuh. Ritual ini memiliki makna spiritual: membersihkan kota dari roh jahat, energi negatif, dan nasib buruk untuk setahun ke depan. Prosesi ini memperkuat nilai gotong royong dan kepercayaan akan perlindungan spiritual, yang menjadikan Cap Go Meh lebih dari sekadar festival hiburan.

Cahaya Lampion: Simbol Harapan dan Persatuan

Ribuan lampion yang diterbangkan ke langit pada malam Cap Go Meh bukan hanya indah dipandang. Mereka melambangkan harapan masyarakat agar jalan hidup di tahun baru menjadi terang benderang, penuh keselamatan, rezeki, dan kebahagiaan. Cap Go Meh adalah penutup manis dari rangkaian perayaan Imlek, sekaligus pengingat akan pentingnya kebersamaan, akal budi, dan keberanian menghadapi tantangan.

Dengan perpaduan sejarah, legenda, budaya, dan kuliner, Cap Go Meh membuktikan dirinya sebagai festival yang tidak hanya meriah secara visual, tetapi juga kaya makna spiritual dan sosial. Ini adalah perayaan yang menegaskan bahwa cahaya baik lampion maupun kearifan leluhur—dapat menuntun manusia menuju harmoni dan kesejahteraan bersama.

Rekomendasi Berita