Festival Tradisi Fondrundrukhu Omo Akan Memeriahkan Maniamolo Fest
- 17 Jun 2025 16:12 WIB
- Gunung Sitoli
KBRN, Gunungsitoli: Maniamolo Fest 2025 yang diadakan di Nias Selatan akan menampilkan Festival Tradisi Fondrundrukhu Omo sebagai bagian dari rangkaian acara, pada Jumat (20/6/2025) mulai dari pukul 10.00-12.00 WIB. Acara ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kearifan local ditengah-tengah masyarakat khususnya warga desa Hilisimaetano dan para wisatawan pada umumnya.
“Dalam event Maniamolo Fest tahun 2025 ini kita kembali mengangkat kegiatan Festival Fondrundrukhu Omo. Festival ini memang sudah 2 kali kita tampilkan yakni pada tahun 2023-2024,” ujar Kepala Desa Hilisimaetano Formil Dachi, Selasa (17/7/2025).
Disampaikannya, Tradisi Fondrundrukhu Omo ini sudah berlangsung sejak lama. Berdasarkan cerita dari para orang-orang tua terdahulu sudah ada kebiasaan membersihkan rumah dengan cara seperti itu di setiap tahun dan selalu dilaksanakan setiap bulan November.
“Bahkan sebelum saya lahir pun sudah ada kebiasaan membersihkan rumah dengan cara seperti itu setiap tahun dan itu selalu dilaksanakan setiap bulan November. Akan tetapi pada saat ini sekitar 2 tahun yang lalu secara serentak kami membuatnya menjadi sebuah festival supaya menjadi pemandangan yang menyenangkan,” ucap Formil.
Biasanya, sebelum tiba Natal dan Tahun Baru, ada kebiasaan di desa Hilisimaetano untuk membersihkan rumah masing-masing dengan bersama-sama. Alat yang digunakan dengan memanfaatkan sabut kelapa, daun serai,daun lalang untuk membersihkan supaya papan-papan rumah adat itu menjadi bersih dan mengkilap.
“Di desa Hilisimaetano ini kan sejak masa kecil kami dulu material rumah rata-rata terbuat dari kayu. Dan kayu ini dalam jangka waktu tertentu akan berlumut sehingga perlu dibersihkan. Sekitar tahun 1970 an, saat sebelum tiba waktu Natal dan tahun baru, orangtua kami menyuruh untuk membersihkan rumah untuk menyambut kedatangan tamu yang ramai. Kita ambil serai, ilalang, sabut kelapa lalu dinding rumah yang terbuat dari papan tersebut digosok sampai bersih sehingga hasilnya indah dipandang dan yang duduk didalam rumahpun merasa nyaman dan betah,” kata Formil.
Namun tidak ada ritual khusus dalam melaksanakan tradisi ini. Semuanya berjalan seperti biasa. Sebagai Pemerintahan Desa, Formil mengatakan, pihaknya hanya ingin membangkitkan kearifan local di desa Hilisimaetano menjadi Desa Adat, Desa Budaya dan Desa Wisata. Bagaimana kearifan local jaman dahulu dapat menjadi sesuatu hal yang unik pada masa sekarang ini, bagaimana bisa membangkitkan kreatifitas masyarakat, dan membangkitkan perekonomian dengan mengupayakan banyaknya wisatawan yang datang berkunjung ke desa Hilisimaetano.
“Kami juga ingin agar anak-anak sekarang bisa memahami bahwa keadaan pada jaman dahulu berjalan apa adanya, menggunakan bahan seadanya namun filosofinya adalah supaya masyarakat bekerja dengan aktif, rapi dan bersih. Kami akan tetap berupaya membangkitkan sebuah kearifan local supaya nilai-nilai itu tetap lestari hingga ke generasi berikutnya,” ujar Formil mengakhiri.