Pakar: Dampak Polusi Udara Pengaruhi Kondisi Mental

  • 10 Jul 2024 19:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Dampak polusi udara terhadap kesehatan fisik maupun mental manusia bisa berdampak jangka pendek dan panjang. Hal itu disampaikan Kepala Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI) Budi Haryanto

"Sebanyak 60 persen penyakit yang diidap seseorang pada umumnya berasal dari paparan polusi udara. Bandingkan dengan penyakit yang disebabkan oleh konsumsi lewat mulut, itu hanya sekitar 15 persen," kata Budi dalam keterangannya, Rabu (10/7/2024).

Lebih jauh ia mengungkapkan dalam jangka pendek penyakit pada orang yang terpapar polusi udara berupa batuk, flu, dan radang tenggorokan. Sementara penyakit jangka panjang berpotensi lebih kronis.

Budi menjabarkan pencemar kimia dapat tersimpan di dalam paru-paru dan organ lain, seperti otak, ginjal, dan jantung, melalui saluran peredaran darah. Timbunan pencemar dapat menyebabkan gangguan jantung, ginjal, kanker paru-paru, bahkan stroke.

Selain penyakit fisik, ujarnya, polusi udara juga salah satu pemicu penyakit mental. Timbunan pencemar di otak dapat memicu gangguan kecemasan, demensia, dan depresi.

"Ini disebabkan senyawa kimia seperti merkuri, timbel, dan kadmium. Serta logam-logam berat berbahaya lainnya yang terkandung, terbawa dalam udara," ujarnya.

Paparan polusi udara tidak hanya berpengaruh di luar ruangan atau bangunan, tetapi juga bisa di dalam ruangan. Pencemar yang terbawa masuk ke dalam ruangan tersebut dampaknya dapat mempengaruhi kesehatan, bahkan kinerja orang-orang di dalamnya.

"Polusi udara yang terbawa ke dalam ruangan berasal dari pergerakan pekerja dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Dalam perjalanan, pencemar dari emisi kendaraan dan kondisi sekitar dapat menempel di pakaian pekerja dan menyebar di dalam ruangan tertutup," ucapnya.

Sebelumnya publikasi jurnal ilmiah PubMed Central melaporkan polusi udara berkaitan dengan berkurangnya tingkat kebahagiaan dan meningkatkan tingkat gejala depresi. Sementara jurnal Environmental Pollution mencatat kaitan antara paparan jangka panjang pada Particulate Matter (PM) 2,5 terhadap peningkatan risiko depresi.

Rekomendasi Berita