Jejak Muda Penjaga Tari Minangkabau

  • 14 Feb 2026 03:37 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Zahira Amanda Nur Febriani, yang akrab disapa Manda, merupakan gadis muda asal Tanjung Alai No. 2A, Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Lahir di Lubuk Sikaping, 6 Februari 2006, Manda berasal dari suku Jambak.

Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara, tumbuh di tengah keluarga sederhana yang menjunjung nilai pendidikan dan akhlak. Ayahnya, Arie Saputra, seorang PNS, dan ibunya, Sunarni, ibu rumah tangga, selalu memberikan dukungan penuh atas setiap langkah yang ia pilih.

Perjalanan Manda di dunia seni tari dimulai sejak kelas 2 SD. Ketertarikannya muncul karena terinspirasi oleh para senior yang lebih dahulu menekuni seni tari. Meski tidak memiliki latar belakang keluarga seniman, kecintaannya pada seni budaya terus tumbuh.

Zahira Amanda Nur Febriani atau akrab di sapa Manda, mengatakan, “Saya mulai menari sejak kecil karena melihat kakak-kakak senior tampil. Dari situ muncul rasa kagum dan ingin bisa seperti mereka,” ujar Manda disaat wawancara pada acara Apresoasi Budaya Minangkabau, Rabu, 11 Februari 2026, melalui sambungan telepon memaparkan perjalanannya di dunia tari.

Lulusan SMK Negeri 1 Lubuk Sikaping ini kemudian mendirikan Sanggar Seni Puti Indo Jalito pada Juni 2025. Meski baru berjalan kurang lebih satu tahun, sanggar tersebut menjadi ruang bagi Manda untuk menyalurkan bakat sekaligus melestarikan tarian khas Minangkabau.

Ia mengaku perjalanan membangun sanggar tidak selalu mudah. “Sering diremehkan karena saya hanya mantan anggota sanggar dan tidak melanjutkan kuliah di bidang seni. Tapi itu justru menjadi semangat untuk membuktikan,” katanya dengan tegas.

Manda mencoba berani untuk mendirikan Sanggar Seni Puti Indo Jalito yang dirintisnya pada bulan Juni 2025. (Foto: Manda)

Demi fokus mengembangkan sanggar, Manda memutuskan berhenti dari pekerjaan sampingannya. Baginya, mengelola sanggar bukan sekadar aktivitas seni, tetapi juga bentuk tanggung jawab budaya.

Ia memegang teguh pesan orang tuanya untuk menjaga nama baik keluarga dan sanggar, tetap beribadah, jujur, ramah, serta tidak setengah-setengah dalam membangun usaha. Dukungan keluarga menjadi kekuatan utama dalam setiap langkahnya.

Ke depan, Manda berharap sanggarnya semakin maju dan mampu membanggakan kedua orang tuanya. Ia ingin terus berkontribusi dalam melestarikan budaya Minangkabau di tengah arus modernisasi.

“Kita punya kewajiban mengenali, mencintai, dan menjaga budaya sendiri sebagai identitas diri. Saya ingin terus memperjuangkan itu lewat tari,” tuturnya.

Rekomendasi Berita