Menjaga Warisan Menguatkan Regenerasi Silat Tradisional
- 18 Feb 2026 23:28 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Sanggar Lenggang Sabeni berdiri pada 10 Oktober 2015 sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian silat tradisional Betawi. Awalnya didirikan di kawasan Rawabelong atas gagasan Ust. H. Chaeruman Hasby.
Seiring perkembangan waktu, tongkat estafet kepemimpinan diberikan untuk membuka cabang di wilayah Tenabang agar jangkauan pembinaan semakin luas dan generasi muda semakin mudah mengakses latihan silat.
Pendirian sanggar ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan semakin pudarnya minat terhadap silat tradisional di tengah perkembangan zaman.
“Kami tidak ingin silat tradisional hilang ditelan zaman. Ini warisan budaya yang harus dijaga,” ujar Imam Anshori, Pelatih Pimpinan Sanggar Lenggang Sabeni saat wawancara di acara Obrolan Komunitas, di RRI Pro 4 Fm Jakarta, Selasa, 17 Februari 2026.
Dengan semangat itu, Lenggang Sabeni terus membina murid-murid agar memahami bukan hanya teknik bela diri, tetapi juga nilai adab dan budaya yang menyertainya.
.webp)
Beragam kegiatan rutin digelar untuk menjaga kekompakan dan semangat kebersamaan, mulai dari peringatan haul Kong Sabeni, perayaan Maulid, hingga gotong royong di hari libur. (Foto : Imam Anshori)
Saat ini, jumlah anggota yang masih aktif berkisar antara 20 hingga 25 orang. Dinamika keanggotaan menjadi hal yang wajar, terlebih mayoritas adalah anak-anak dan remaja.
“Namanya juga bocah, masih labil. Yang penting punya niat dulu untuk belajar,” ungkap pelatih. Seleksi alam terjadi secara alami, namun mereka yang bertahan umumnya memiliki semangat kuat untuk mendalami silat tradisional.
Beragam kegiatan rutin digelar untuk menjaga kekompakan dan semangat kebersamaan, mulai dari peringatan haul Kong Sabeni, perayaan Maulid, hingga gotong royong di hari libur.
Lenggang Sabeni juga aktif memenuhi undangan silaturahmi antar-sanggar dan tampil di berbagai ajang bergengsi. Mereka pernah terlibat dalam atraksi gabungan pada Asian Games 2018, tampil di Istana Negara, serta menjadi perwakilan Jakarta dalam pertunjukan silat tradisional di Bandung, Ancol, dan Yogyakarta. Bahkan, mereka juga sempat tampil dalam program televisi seperti Dahsyat.
.webp)
Sanggar Lenggang Sabeni juga aktif memenuhi undangan silaturahmi antar-sanggar dan tampil di berbagai ajang bergengsi. (Foto : Imam Anshori)
Di balik berbagai pencapaian, tentu ada suka dan duka. Kebahagiaan terbesar adalah ketika regenerasi terus berjalan dan masih ada generasi muda yang ingin belajar silat tradisional. Namun tantangan terbesar datang dari perkembangan teknologi.
“Dukanya, anak-anak sekarang lebih tertarik gadget. Itu tantangan kami,” tutur Anshori. Meski demikian, harapan mereka tetap teguh, agar semakin banyak generasi muda mencintai dan melestarikan silat tradisional sebagai identitas budaya bangsa.
Baca Juga : Merajut Kolaborasi, Membangun Ekosistem Teater