Lantunan Lir-Ilir Sastro Gendhing Dari Swara SeadaNya
- 01 Mar 2026 05:59 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kelompok musik etnik kontemporer Swara SeadaNya membawakan komposisi Lir-Ilir Sastro Gendhing dalam acara Tadarus Cinta yang digelar oleh Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia. Acara tersebut berlangsung di Makara Art Center Universitas Indonesia pada Jumat malam, 27 Februari 2026, dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan. Penampilan ini menghadirkan perpaduan nilai religius dan kekayaan budaya Nusantara dalam satu panggung yang syahdu.
Dalam pertunjukan tersebut, Swara SeadaNya memadukan tembang Lir-Ilir karya Sunan Kalijaga dengan Serat Sastro Gendhing karya Sultan Agung Hanyokrokusumo. Tembang Lir-Ilir yang lahir pada awal abad ke-16 dikenal sebagai media dakwah yang lembut dan penuh makna, mengajak umat untuk bangkit memperbaiki iman serta mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat. Sementara itu, Serat Sastro Gendhing merupakan karya sastra adiluhung yang memadukan ajaran Islam dengan kebudayaan Jawa, menekankan harmoni antara syariat dan hakikat.

Perpaduan dua warisan besar tersebut semakin kaya dengan pembacaan puisi karya Ayi Suminar yang mengangkat tema cinta pada sesama. Nuansa kontemplatif terasa kuat ketika suling, kecapi, celempung, gitar, dan vokal menyatu dalam aransemen yang tenang namun menghanyutkan. (Foto : Humas Komoenitas Makara)
Baca Juga : Tadarus Cinta Syiar Ramadan Penuh Kasih Dikampus UI
Baca Juga : Mahasiswa Jepang Ikuti Workshop Seni Budaya Indonesia di UI
Perpaduan dua warisan besar tersebut semakin kaya dengan pembacaan puisi karya Ayi Suminar yang mengangkat tema cinta pada sesama. Nuansa kontemplatif terasa kuat ketika suling, kecapi, celempung, gitar, dan vokal menyatu dalam aransemen yang tenang namun menghanyutkan. Ayi Suminar tampil sebagai pembaca puisi, didampingi Asep Rachman Muchlas (suling), Gunawan Wicaksono (gitar, vokal), Theressa Rida (celempung), Abrar Husin (kecapi), serta Indonesiana Ayuningtyas (tari tradisional).
Direktur Kebudayaan UI, Ngatawi Al Zastrouw, menyampaikan apresiasinya atas pertunjukan tersebut. “Karya-karya klasik seperti Lir-Ilir dan Sastro Gendhing menunjukkan bahwa spiritualitas dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk merawat keduanya,” ujarnya. Senada dengan itu, Ketua Komoenitas Makara, Fitra Manan, menambahkan bahwa Tadarus Cinta dihadirkan sebagai ruang dialog batin melalui seni.

Foto bersama tampak sejumlah tamu turut menyaksikan pertunjukan tersebut, di antaranya Turita Indah Setyani, Raymond Michael Menot, Rocky Gerung, serta Dwi Woro Retno Mastuti dan team Kelompok musik etnik kontemporer Swara SeadaNya. (Foto : Humas Komoenitas Makara)
Sejumlah tamu turut menyaksikan pertunjukan tersebut, di antaranya Turita Indah Setyani, Raymond Michael Menot, Rocky Gerung, serta Dwi Woro Retno Mastuti. Kehadiran mereka menambah bobot intelektual dan spiritual dalam suasana malam itu. Melalui harmoni musik, puisi, dan tari, Swara SeadaNya menghadirkan Ramadan sebagai ruang perenungan yang hangat, menyatukan tradisi, cinta, dan kesadaran batin dalam satu tarikan napas kebudayaan.
Baca Juga: Merawat Musik Etnik dari Ranah Minang ke Ibu Kota