Langkah Teater Mantuli Membuka Panggung Harapan
- 02 Mar 2026 18:38 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Teater Mantuli resmi didirikan pada 1 Juni 2024 sebagai ruang baru bagi anak-anak Tuli untuk bertumbuh melalui seni peran. Nama “Mantuli” merupakan singkatan dari “Teman Tuli”, sebuah makna yang mencerminkan semangat kebersamaan dan persahabatan. Kehadiran teater ini menjadi titik awal baru setelah teater sebelumnya dinilai sudah tidak kondusif. Dengan semangat memulai kembali dari nol, Teater Mantuli lahir sebagai wadah yang lebih sehat dan terarah.
Pendiri Teater Mantuli, Teater Mantuli memiliki 21 anak Tuli sebagai anggota aktif. Proses seleksi masuk dilakukan secara ketat, mulai dari casting untuk anak hingga wawancara dan tes karakter bagi orang tua., mendirikan komunitas ini atas permintaan para orang tua anak-anak Tuli dari teater lama. Ia memilih membubarkan wadah sebelumnya dan membangun kembali dengan fondasi yang lebih kuat. Berkat dukungan sahabatnya, Teater Mantuli mendapat pinjaman tempat latihan setiap Sabtu di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang. “Kami percaya, memulai kembali adalah bentuk keberanian untuk menjaga masa depan anak-anak ini,” ujar Robert.

Teater Mantuli secara khusus membina anak-anak Tuli sejak dini dalam bidang seni peran. Seni peran dipilih karena diyakini mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan kebebasan berekspresi di atas panggung. (Foto : Robert Gunadi)
Teater Mantuli secara khusus membina anak-anak Tuli sejak dini dalam bidang seni peran. Seni peran dipilih karena diyakini mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan kebebasan berekspresi di atas panggung. Tidak hanya melatih keterampilan akting, para anggota juga dibentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandiriannya. Visi mereka terangkum dalam moto, “Tuli Berkarya, Mandiri dan Menginspirasi.” “Setiap karya adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melampaui diri sendiri,” ungkap salah satu pengurus.
Saat ini, Teater Mantuli memiliki 21 anak Tuli sebagai anggota aktif. Proses seleksi masuk dilakukan secara ketat, mulai dari casting untuk anak hingga wawancara dan tes karakter bagi orang tua. Komitmen orang tua menjadi syarat penting agar pertumbuhan anak selaras antara rumah dan panggung. Dalam setiap pementasan, Teater Mantuli menolak menjual kisah diskriminasi sebagai daya tarik. Sebaliknya, mereka memilih menampilkan kedalaman cerita dan kemampuan artistik anak-anak Tuli. Untuk pertunjukan besar, unsur budaya dan sejarah selalu diangkat sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus edukasi bagi penonton.
Dalam 1,5 tahun perjalanannya, Teater Mantuli telah memproduksi sembilan pertunjukan kecil dan satu pertunjukan besar. Mereka kerap tampil di Gedung Kesenian Jakarta dan Gedung Kesenian Miss Tjitjih, serta di berbagai ruang publik seperti mal, restoran, dan hotel. Kebahagiaan terbesar mereka adalah melihat perkembangan anak-anak di atas panggung, meski dukungan pemerintah dan swasta masih minim. “Kami rindu mendapat dukungan lebih luas agar semakin banyak anak Tuli dapat kami bina, bahkan suatu hari nanti Teater Mantuli bisa go internasional,” tutup Robert penuh harap.
Baca Juga : Tadarus Cinta Syiar Ramadan Penuh Kasih Dikampus UI