Syiar Ramadan, Ngabuburit Budaya di Kampus UI

  • 07 Mar 2026 04:55 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia menyelenggarakan kegiatan Ngabuburit Budaya sebagai bagian dari rangkaian Syiar Ramadan Kampus UI 2026 di Makara Art Center UI, Kamis, 5 Maret 2026. Acara yang mengangkat tema Taqwa yang Berdampak Dari Kesalehan Individual ke Kesalehan Sosial” ini menghadirkan tokoh agama KH Mukti Ali Qusyairi sebagai narasumber, dengan moderator Ayi Suminar yang dikenal sebagai salah satu pendiri Komoenitas Makara. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus budaya bagi civitas akademika dan masyarakat yang hadir.

KH Mukti Ali Qusyairi sebagai narasumber, mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa orang yang benar-benar takut kepada-Nya adalah mereka yang memiliki ilmu. “Orang yang berilmu tetapi tidak bertaqwa ibarat pohon yang tidak berbuah. Ia ada, tetapi tidak memberi manfaat. (Foto, Dok: Direktorat Kebudayaan UI)

Baca Juga: Cinta Sebagai Sintesis Budaya dalam Ruang Ramadan

Baca Juga : Meditasi Cinta Kasih sebagai Jalan Pulang di Bulan Ramadan

Dalam pemaparannya, Mukti menjelaskan bahwa konsep taqwa tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Ia merujuk pandangan ulama besar Fakhruddin al-Razi yang menyatakan bahwa taqwa merupakan buah dari ilmu. Menurutnya, seluruh perbuatan baik yang lahir dari pemahaman dan pengetahuan merupakan wujud nyata dari taqwa itu sendiri. Ia juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa satu orang alim lebih ditakuti oleh setan daripada seribu ahli ibadah.

Lebih lanjut, Mukti mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa orang yang benar-benar takut kepada-Nya adalah mereka yang memiliki ilmu. “Orang yang berilmu tetapi tidak bertaqwa ibarat pohon yang tidak berbuah. Ia ada, tetapi tidak memberi manfaat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ilmu yang disertai taqwa akan melahirkan kebermanfaatan bagi kehidupan, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas.

Pesan utama dari kegiatan ini menegaskan bahwa ibadah tidak berhenti pada kesalehan pribadi, melainkan harus berlanjut pada kesalehan sosial yang menghadirkan kepedulian, kasih sayang, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama manusia. Dengan demikian, nilai-nilai spiritual yang dipelajari tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Acara Ngabuburit Budaya berlangsung dengan khidmat sekaligus hangat melalui berbagai penampilan seni dan budaya. Hadroh dari PLK UI membuka suasana religi, disusul pembacaan puisi oleh Gunawan Wicaksono dan Mulyadi, serta musikalisasi yang dibawakan oleh Sasina. (Foto, Dok: Direktorat Kebudayaan UI)

Acara Ngabuburit Budaya berlangsung dengan khidmat sekaligus hangat melalui berbagai penampilan seni dan budaya. Hadroh dari PLK UI membuka suasana religi, disusul pembacaan puisi oleh Gunawan Wicaksono dan Mulyadi, serta musikalisasi yang dibawakan oleh Sasina. Perpaduan diskusi keagamaan dan ekspresi seni ini menjadi pengingat bahwa spiritualitas, budaya, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan dalam memperkaya kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Rang Minang Merantau Dengan Integritas, Mengabdi untuk Negeri

Rekomendasi Berita