Ahli Jelaskan Mengapa Baterai Drone Lebih Berisiko Terbakar
- 10 Des 2025 10:59 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Kebakaran Gedung PT Terra Drone Indonesia di Kemayoran Jakarta yang menewaskan 22 orang kembali membuka pertanyaan besar: mengapa baterai drone bisa terbakar begitu cepat, dan apakah benar risikonya lebih tinggi dibandingkan baterai kendaraan listrik?
Kebakaran yang melumatkan toko drone pada hari Selasa, 9 Desember 2025 itu menyisakan tragedi besar dengan 22 korban jiwa. Insiden itu diduga dipicu ledakan baterai drone di ruang penyimpanan yang kemudian merembet ke unit baterai lain dan membentuk kobaran api besar.

Gubernur Pramono Anung turun langsung ke lokasi kebakaran Terra Drone. Ia memastikan penanganan korban dan menekankan pentingnya peningkatan standar keamanan baterai berkapasitas besar. (Foto: beritajakarta.id)
Baca juga:
- Kronologi 19 Korban Selamat dari Kebakaran Ruko Terra
- Puslabfor Berhasil Identifikasi 22 Korban Kebakaran Ruko Terra
Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan atau Gulkarmat DKI Jakarta mencatat 15 perempuan dan 7 laki-laki meninggal dalam kejadian tersebut. Sebanyak 19 orang berhasil diselamatkan setelah 29 unit dan 155 personel pemadam dikerahkan sejak laporan masuk pukul 12.43 WIB.
Api mulai dilokalisasi pada pukul 13.40 WIB dan proses pendinginan berlangsung hingga 14.10 WIB, sebelum operasi dinyatakan selesai pukul 16.55 WIB.
Pemprov DKI Jakarta melalui Gubernur Pramono Anung meninjau langsung lokasi kebakaran di hari insiden terjadi. “Saya sungguh sangat berduka dan mudah-mudahan ini tidak terulang kembali,” ujar Pramono saat menegaskan bahwa Pemprov menanggung penuh seluruh biaya penanganan korban.
Penyebab awal kebakaran mengarah pada dugaan meledaknya baterai drone, sebagaimana laporan dari sumber-sumber awal kantor berita nasional Antara. "Kalau dari keterangan tadi, memang sementara baru karena baterai drone yang terbakar. Namun sebabnya terbakar, saat ini Tim Labfor masih bekerja," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro di Jakarta seperti dilansir antara.

Ahli ITS Muhammad Nur Yuniarto (kiri) menegaskan baterai drone lebih rentan terbakar dibanding baterai kendaraan listrik. Penyebabnya, sistem pengaman dan pendingin pada drone tidak sekomprehensif kendaraan listrik. (Foto: Tangkapan layar wawancara zoom meeting)
Peneliti Kendaraan Listrik Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau ITS Surabaya, Muhammad Nur Yuniarto, menjelaskan bahwa baterai drone memang memiliki risiko lebih tinggi terbakar dibandingkan baterai kendaraan listrik. “Secara teknis, baterai drone atau baterai kendaraan listrik memiliki potensi untuk terbakar, tetapi standar keamanan drone tidak selalu seketat kendaraan listrik,” ujar Yuniarto dalam wawancara radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Rabu 10 Desember 2025.
Menurutnya, karakter kimia baterai drone yang digunakan perusahaan berbeda-beda dan hingga kini belum dipastikan jenis kimianya. “Kita masih belum tahu komposisi kimia baterainya apa, apakah lithium phosphate atau lithium nickel manganese cobalt atau NMC,” ucapnya.
Baterai dengan komposisi NMC memiliki risiko lebih tinggi mengalami thermal runaway atau reaksi panas berantai dibandingkan baterai lithium iron phosphate atau LFP. “Kalau sudah kebakar, reaksinya tidak bisa dihentikan, sehingga merembet ke baterai lain seperti bahan bakar cair,” kata Yuniarto.
Ia menekankan bahwa penyimpanan baterai berperan besar terhadap tingkat keamanan. “Baterai itu musuh utamanya temperatur, dan sebaiknya berada di bawah 40 derajat karena di atas 60 derajat sudah tidak aman, dan di atas 80 derajat sangat tidak aman,” ujar Yuniarto.
/hnwa3s66m4cx722.jpeg)
Ilustrasi (Foto: Inmortal Producciones /pexels)
Drone komersial umumnya memiliki standar keamanan, tetapi perangkat yang dirakit sendiri atau baterai yang disimpan tanpa pengaturan suhu berisiko lebih besar meledak. “Jadi kita perlu melihat apakah drone yang digunakan sudah melewati uji standar dan bagaimana penyimpanan baterainya,” ucapnya.
Baterai drone juga berbeda secara teknis dengan baterai kendaraan listrik karena tidak dilengkapi sistem pendingin, manajemen baterai berlapis, hingga pengendali arus yang ketat. “Di kendaraan listrik ada sistem pengaman berlapis mulai dari pendinginan hingga pembatasan arus, sehingga relatif lebih aman,” ujar Yuniarto.
Ketiadaan sistem keselamatan itu membuat satu baterai drone yang terbakar dengan mudah memicu reaksi berantai pada baterai lain di ruang tertutup. “Kalau satu terbakar, dia akan merembet dengan cepat, sehingga harus segera diturunkan temperaturnya,” kata Yuniarto.
Ia menambahkan, standar penyimpanan baterai drone seharusnya mencakup ruang sejuk, tegangan simpan yang tidak penuh, serta tidak menempatkan baterai terlalu dekat sumber panas. “Kalau disimpan terlalu panas, baterai rentan terbakar, dan kalau sudah terbakar reaksinya sulit dihentikan,” ujarnya.