6 Planet Berjajar Akhir Februari 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
- 26 Feb 2026 10:59 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Fenomena enam planet yang tampak berjajar di langit akhir Februari 2026 ramai dibicarakan publik. Banyak yang membayangkannya sebagai peristiwa langka dan dramatis, padahal sains menyimpan penjelasan yang lebih tenang sekaligus menarik.
Peristiwa ini dikenal sebagai planetary alignment atau parade planet, yakni saat sejumlah planet berada di sisi langit yang sama jika dilihat dari Bumi. Fenomena ini akan mencapai puncaknya pada Jumat, 28 Februari 2026, sesaat setelah Matahari terbenam.

Ilustrasi kesejajaran planet pada 28 Februari 2026 dilihat dari atas bidang Tata Surya. NASA menyebut momen ini sebagai Planetary Parade karena sejumlah planet terang dapat diamati bersamaan tanpa bantuan alat optik. (Sumber: Vito Technology, Inc.)
Baca juga:
Fenomena parade planet pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 terjadi karena perbedaan kecepatan orbit tiap planet mengelilingi Matahari. Astronom Komunikator Indonesia sekaligus Founder Waluku Project, Ronny Syamara, menjelaskan bahwa peristiwa ini disebut konjungsi planet dan bukan hal yang sepenuhnya langka.
“Planet-planet itu sebenarnya tidak berkumpul di satu titik. Dari luar tata surya, posisinya tetap berjauhan, tetapi dari sudut pandang Bumi terlihat seolah-olah berdekatan di satu jalur langit,” ujar Ronny Syamara saat diwawancarai di radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
Ronny menegaskan, persepsi publik sering kali keliru karena menganggap enam planet akan tampak jelas bersamaan. “Di Jakarta, dengan polusi cahaya dan udara, yang mungkin terlihat hanya Venus, Saturnus, dan Jupiter. Merkurius terlalu dekat dengan Matahari, sementara Uranus dan Neptunus terlalu redup untuk mata telanjang,” ucapnya.

Mars, Jupiter, dan Venus tampak di langit malam saat fenomena tujuh planet sejajar pada 28 Februari 2025. Momen langka ini berhasil diabadikan oleh Rui Santos dari Pinhal de Leiria, Portugal pada 28 Februari 2025. (Foto: skyatnightmagazine)
Laporan Los Angeles Times juga menyebut parade planet ini sebagai fenomena yang menyenangkan untuk diamati, meski sebagian besar orang biasanya hanya mampu melihat dua hingga tiga planet tanpa bantuan alat. Media itu mengutip data NASA yang menyebut susunan empat atau lima planet yang tampak bersamaan tergolong jarang dan terjadi setiap beberapa tahun.
Situs astronomi starwalk.space menjelaskan bahwa enam planet memang berada di atas horizon setelah Matahari terbenam, tetapi terbentang memanjang mengikuti garis ekliptika. Kondisi ini membuat waktu pengamatan menjadi sangat singkat, terutama untuk planet-planet rendah di ufuk barat seperti Merkurius dan Venus.

Astronom Komunikator Indonesia sekaligus Founder Waluku Project, Ronny Syamara (kiri), menjelaskan fenomena parade enam planet yang akan terjadi akhir Februari 2026 saat diwawancarai penyiar Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Farid Kurniawan (kanan), melalui zoom meeting pada Kamis, 26 Februari 2026. (Foto: tangkapan layar wawancara zoom meeting)
Dari arsip kantor berita Antara, fenomena serupa pernah terjadi pada Juni 2024 dan juga tidak menimbulkan dampak apa pun bagi Bumi. Peneliti astronomi kala itu menegaskan bahwa mitos tentang pengaruh planet berjajar terhadap bencana alam tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Ronny Syamara menambahkan, “Pengaruh gravitasi planet terhadap Bumi sangat kecil dibandingkan pengaruh Bulan dan Matahari. Jadi tidak ada efek signifikan, baik pada pasang laut maupun kondisi geologis,” ucapnya.
Ia menyarankan masyarakat yang ingin mengamati fenomena ini untuk memilih lokasi dengan ufuk barat terbuka dan mulai mengamati sekitar 30 menit setelah Matahari terbenam. “Gunakan aplikasi astronomi di ponsel agar tahu posisi planet, dan jangan berharap melihat detail seperti di buku pelajaran,” ujar Ronny.