Program Laporkan Kebaikan Teman, Terbukti Tingkatkan Empati Remaja Jakarta
- 03 Mar 2026 14:27 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta : Remaja Indonesia ternyata memiliki modal pro social dan sikap empati yang sangat kuat. Hal ini terungkap dalam sebuah eksperimen sosial berbasis sekolah yang diinisiasi oleh Health Collaborative Center (HCC) melalui program CekTemanSebelah 2.0: “Laporkan Kebaikan Teman”.
Ketua Tim Eksperimen sekaligus Ketua HCC Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menyampaikan, program yang melibatkan 699 siswa SMA di Jakarta, dengan 541 siswa menyelesaikan program penuh selama 10 hari terungkap bahwa perilaku melaporkan kebaikan teman (tootling) secara terstruktur selama 10 hari mampu meningkatkan empati dan sikap pro sosial remaja secara signifikan.
“Terbukti bahwa ternyata remaja pelajar SMA yang terlibat aktif dalam pelaporan kebaikan menunjukkan 5 kali lebih empati, 5 kali lebih prososial dan hampir 4 kali lebih tinggi perspective-taking atau kemampuan memahami sudut pandang orang lain,” ujar dr. Ray didampingi Direktur Eksekutif HCC Bunga Pelangi, MKM, Senin, 2 Maret 2026.
Ray mengungkapkan, intervensi eksperimen sosial ini sebenarnya terinspirasi dari metode tootling atau melaporkan kebaikan dan tindakan positif teman sebaya selama di sekolah, karena di beberapa negara maju metode ini bahkan menjadi bagian dari pendidikan karakter berbasis kurikulum dasar.
“Diakhir eksperimen ini terdapat 4.710 laporan kebaikan terkumpul hanya dalam 10 hari, artinya ada daya multiplikasi 10 kali lipat dalam satu intervensi sederhana. Bahkan 8 dari 10 pelajar merasakan perubahan positif setelah mengikuti program. Mereka yang aktif melaporkan kebaikan memiliki 11 kali peluang lebih besar merasakan perubahan positif,” kata Ray yang sering memberi edukasi lewat akun media sosial instagram @ray.w.basrowi ini.
Temuan ini menunjukkan bahwa praktik sederhana berupa “melaporkan kebaikan teman” mampu memperkuat fondasi psikologis remaja dalam waktu singkat. Fakta dan temuan menarik lainnya yakni, 77% siswa melaporkan kebaikan sebagai bentuk mengucapkan terima kasih, 71% sebagai bentuk apresiasi, 50% sebagai balas kebaikan, 41% untuk menginspirasi teman lain dan 34% agar kebaikan diketahui public.
“Menariknya, siswa perempuan memiliki peluang 34 kali lebih besar melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan dibandingkan kepada siswa laki-laki, menunjukkan dinamika sosial yang dapat menjadi dasar pengembangan strategi intervensi selanjutny,” ucapnya.
Psikolog Klinis Puskesmas Ciracas Sulastry pardede, Psi mengatakan, program terhadap para pelajar ini mengukur 6 aspek emosional remaja (termasuk gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, relasi teman sebaya, skor kesulitan, dan prososial), serta aspek empati menggunakan Interpersonal Reactivity Index.
“Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku prososial yang dilatih melalui tootling CekTemanSebelah ini meningkatkan empati dan solidaritas, mengurangi rasa ketidaknyamanan diri, membentuk reaksi sosial positif, dan memperkuat hubungan antar teman sebaya,” ujar Sulastry yang juga sebagai elaborator eksklusif eksperimen sosial ini.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan jiwa remaja, pendekatan berbasis kekuatan (strength-based intervention) seperti ini menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus kompleks atau mahal. Program ini membuka peluang besar bagi penguatan promosi kesehatan jiwa berbasis sekolah secara nasional.
Pada kesempatan yang sama, Guru BK – MAN 2 Jakarta Timur, Naeni Rohmawati, S.Pd menyampaikan program ini membawa perubahan terhadap peserta didik. Siswa yang biasanya pasif mulai berani mengapresiasi temannya. “Program ini sederhana, tetapi dampaknya nyata—empati tumbuh, interaksi menjadi lebih hangat, dan ruang kelas terasa lebih aman secara emosional,” katanya.
Sementara itu, Donita Putri Shanum seorang pelajar X-D MAN 2 Jakarta Timur yang awalnya berpikir ini hanya tugas menulis biasa, tapi ternyata setelah melaporkan kebaikan teman, dirinya jadi lebih sadar bahwa banyak hal baik yang sering terlewat di sekitarnya. “Rasanya senang bisa mengapresiasi teman, dan ternyata itu juga bikin saya merasa lebih positif,” ucapnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Muhammad Khoirul Anam (Pelajar XI-G – MAN 2 Jakarta Timur), yang mengatakan bahwa program ini bikin siswa lebih peka. Biasanya kebaikan teman dianggap biasa saja, tapi ketika dilaporkan, jadi terasa lebih berarti. "Saya merasa hubungan antar teman jadi lebih solid dan lebih saling menghargai," ujar Muhammad Khoirul Anam.