Menyalakan Cahaya Dakwah di Pelosok Pandeglang
- 27 Feb 2026 11:01 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – Langkah dakwah tak selalu dimulai dari mimbar. Di sudut terpencil Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dakwah justru tumbuh dari jalan terjal, pintu-pintu rumah yang diketuk dengan santun, serta percakapan hangat yang perlahan menumbuhkan kepercayaan. Di wilayah inilah Muhidin, dai dari Program Dai 3T Kementerian Agama Republik Indonesia, menjalankan pengabdian. Perjalanan menuju lokasi binaannya memakan waktu hampir tiga jam dari pusat kecamatan. Sepeda motor hanya mampu menjangkau batas jalan berbatu. Selebihnya, ia menapaki medan terjal melewati perbukitan, perkebunan sawit, hingga kebun warga. Saat musim hujan, jalan berubah licin dan berisiko. Namun kondisi itu tak menyurutkan tekadnya. Bangunan tempat belajar anak-anak pun sederhana. Dinding papan, atap seng, dan lantai semen yang sebagian retak menjadi ruang mengaji setiap sore. Ketika hujan turun deras, suara gemuruh di atap kerap mengalahkan lantunan ayat suci. Bahkan, beberapa kali kegiatan terhenti karena atap bocor dan air menggenang. Di tengah keterbatasan itu, semangat anak-anak tetap menyala.
Muhidin mengakui, masa awal penugasan bukan hal mudah. Ada kehati-hatian dari sebagian warga terhadap pendatang baru. Ia pun memilih pendekatan persuasif: bersilaturahmi dari rumah ke rumah, berdialog dengan tokoh masyarakat, serta mendahulukan mendengar sebelum berbicara. “Saya belajar bahwa dakwah bukan soal seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa dalam kita memahami. Ketika masyarakat merasa dihargai, pintu hati mereka terbuka dengan sendirinya,” kata dia, Kamis 26 Februari 2026.
Pendekatan dialogis dan keteladanan menjadi jalan yang ditempuhnya dalam meluruskan pemahaman keagamaan. Ia menekankan pentingnya mengikuti tuntunan ulama kredibel serta memperkuat fondasi akidah dan pendidikan karakter. Sebagai bagian dari Program Dai 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang digagas Kementerian Agama, kehadiran dai di wilayah terpencil diharapkan menjadi jembatan penguatan pembinaan keagamaan sekaligus sosial. Dakwah yang dibawa bukan sekadar ceramah, melainkan pendampingan yang membangun empati dan kohesi masyarakat.
Perubahan kecil menjadi penguat langkahnya. Seorang anak yang awalnya belum mengenal huruf hijaiyah dan jarang hadir belajar, kini mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar bahkan memimpin doa di hadapan teman-temannya. “Yang membuat saya bertahan adalah melihat perubahan kecil itu. Ketika anak-anak mulai merasa sholat sebagai kebutuhan, bukan lagi kewajiban yang dipaksa, di situ saya merasakan makna pengabdian,” ujarnya.
Peran dai di wilayah 3T juga melampaui fungsi pengajar. Muhidin kerap diminta menjadi penengah persoalan warga, membantu menghubungkan masyarakat dengan layanan kesehatan, hingga mendampingi administrasi pernikahan ke KUA. Keberadaannya menjadi bagian dari denyut sosial desa. Di sisi lain, keterbatasan sinyal komunikasi membuatnya kerap menahan rindu pada keluarga. Ia menguatkan diri dengan tilawah malam dan menulis catatan harian dakwah. Baginya, pengabdian adalah proses menempa diri sekaligus melayani umat.
Muhidin pun memikirkan keberlanjutan pembinaan setelah masa tugasnya berakhir. Ia mulai mendorong lahirnya kader lokal agar estafet dakwah terus berjalan. “Kami berharap ada generasi setempat yang tumbuh menjadi penggerak. Dakwah akan lebih kuat jika lahir dari rahim masyarakat itu sendiri,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Ali Sibromalisi, menegaskan Program Dai 3T dirancang untuk memperkuat harmoni sosial sekaligus menjawab keterbatasan akses pembinaan keagamaan.
“Dakwah di wilayah 3T harus mengedepankan pendekatan moderasi beragama, menghargai kearifan lokal, membangun dialog, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat. Dai tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk membersamai,” ujar Ali.
Ia menambahkan, keberhasilan program tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari tumbuhnya kesadaran dan kemandirian masyarakat. “Keberlanjutan adalah kunci. Kami ingin cahaya dakwah itu tetap menyala, bahkan ketika program telah usai,” ucapnya.
Program Dai 3T di Pandeglang menjadi gambaran bahwa dakwah di pelosok negeri bukan hanya tentang ceramah, tetapi tentang memulihkan kepercayaan, menumbuhkan harapan, serta menghadirkan agama sebagai rahmat di tengah keterbatasan.
Sumber: kemenag.go.id