Mahasiswa UNEJ Ciptakan Laboratorium Pintar Selamatkan Serangga

  • 13 Mar 2026 09:14 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Menjaga kelestarian alam tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Bagi tiga mahasiswa Universitas Jember (UNEJ), kepedulian terhadap ekosistem justru berangkat dari makhluk kecil yang sering luput dari perhatian serangga. Dari kegelisahan itu, lahirlah sebuah gagasan inovatif bernama EntoSphere, konsep laboratorium serangga pintar berbasis teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Tiga mahasiswa tersebut adalah Nadzar Thariqy Achsan, Melsanda Aprilina, dan Fahilah Ayu Safitri, mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember. Mereka merancang EntoSphere sebagai solusi edukatif untuk memantau sekaligus melestarikan populasi serangga yang semakin menurun.

Menurut Nadzar Thariqy Achsan Kamis 12 Maret 2026, ide ini berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya kesadaran masyarakat mengenai peran penting serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

“Kepedulian kami terhadap kelestarian serangga ini datang dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap peran penting serangga dalam menjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.

Berbeda dari kandang atau laboratorium serangga pada umumnya, EntoSphere dirancang sebagai ruang penelitian interaktif yang menggabungkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Sistem ini dilengkapi sensor suhu serta kamera khusus yang dapat memantau aktivitas serangga tanpa mengganggu perilaku alaminya.

Melalui teknologi tersebut, sistem AI mampu mengenali spesies serangga sekaligus menganalisis pola aktivitasnya secara otomatis. Data yang dikumpulkan dapat dipantau secara real-time sehingga memudahkan proses penelitian dan pemantauan populasi serangga secara lebih akurat dan terstandar.

Tak hanya berfokus pada penelitian, konsep EntoSphere juga dirancang untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. Dalam program yang mereka sebut “Insecta Cops”, siswa diajak belajar biologi dengan pendekatan yang lebih interaktif. Para siswa dapat menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan dengan perilaku serangga melalui data lapangan yang nyata.

Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat literasi sains sekaligus melatih kemampuan analitis siswa. Integrasi antara biologi, teknologi, dan analisis data menjadikan proses belajar tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berbasis pengalaman langsung.

Meski masih berupa konsep dalam bentuk esai ilmiah, gagasan EntoSphere berhasil menarik perhatian di tingkat nasional. Inovasi tersebut meraih Juara 5 dalam ajang National Essay Competition REAGENTS Generasi Peneliti pada Desember 2025. Dalam kompetisi tersebut, tim harus meyakinkan dewan juri melalui presentasi daring yang kritis dan argumentatif.

Bagi Nadzar dan timnya, pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus berinovasi. Ia juga mengapresiasi dukungan kampus yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide kreatif dan berkompetisi.

Ia berharap, keberhasilan kecil ini dapat memicu semangat mahasiswa lain untuk berani mencoba dan mengembangkan gagasan yang berdampak bagi lingkungan.

“Jangan ragu memulai dan jangan takut gagal. Proses mencoba, belajar, dan konsisten itulah yang akhirnya membawa kita pada prestasi,” pungkasnya.

Melalui EntoSphere, ketiga mahasiswa UNEJ tersebut ingin menunjukkan bahwa teknologi modern tidak hanya digunakan untuk kemajuan industri, tetapi juga dapat menjadi alat penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi—bahkan bagi makhluk kecil seperti serangga.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita