Stent, Solusi Medis untuk Mengatasi Penyumbatan Arteri Jantung
- 28 Feb 2026 20:13 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Stent adalah tabung kecil yang berperan besar dalam penanganan penyakit jantung. Alat ini membantu menjaga arteri, pembuluh darah yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh, termasuk ke otot jantung supaya tetap terbuka.
Penjelasan dari webmd.com, stent umumnya terbuat dari anyaman kawat logam dan bersifat permanen. Ada pula jenis yang terbuat dari kain, dikenal sebagai stent graft, biasanya digunakan untuk arteri berukuran besar. Selain itu, tersedia juga stent berbahan khusus yang dapat larut dan diserap tubuh seiring waktu. Beberapa stent dilapisi obat yang dilepaskan secara perlahan untuk mencegah penyumbatan kembali.
Stent biasanya dipasang ketika terjadi penyempitan arteri akibat penumpukan plak, yaitu zat lemak yang menempel di dinding pembuluh darah. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit jantung koroner dan dapat menyebabkan nyeri dada (angina).
Penumpukan plak juga dapat memicu terbentuknya bekuan darah yang menghambat aliran darah ke jantung dan berpotensi menyebabkan serangan jantung. Dengan menjaga arteri tetap terbuka, stent membantu mengurangi risiko nyeri dada dan bahkan dapat digunakan dalam penanganan serangan jantung yang sedang berlangsung.
Menurut WebMD, prosedur pemasangan stent dilakukan melalui tindakan minimal invasif. Dokter membuat sayatan kecil di pembuluh darah, biasanya di area selangkangan, lengan, atau leher. Melalui sayatan tersebut, dimasukkan selang tipis bernama kateter yang diarahkan menuju arteri yang tersumbat.
Di ujung kateter terdapat balon kecil. Saat balon dikembangkan di dalam arteri yang menyempit, pembuluh darah akan melebar sehingga aliran darah kembali lancar. Setelah itu, stent dipasang untuk menjaga arteri tetap terbuka. Kateter dan balon kemudian dilepas, sementara stent tetap berada di dalam pembuluh darah. Prosedur ini umumnya berlangsung sekitar satu jam, namun pasien biasanya perlu menjalani rawat inap semalam untuk pemantauan.
Pemasangan stent, seperti prosedur medis lainnya, tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami pasien. Beberapa risiko tersebut antara lain perdarahan di lokasi pemasangan kateter, kerusakan pembuluh darah, infeksi, serta gangguan irama jantung. Selain itu, sekitar 1–2 persen pasien berpotensi mengalami pembentukan bekuan darah di area stent.
Risiko ini umumnya paling tinggi dalam beberapa bulan pertama setelah prosedur dan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan jantung atau stroke. Karena itu, dokter biasanya meresepkan aspirin atau obat pengencer darah lainnya untuk mencegah pembekuan. Konsumsi obat ini dapat berlangsung selama satu bulan hingga satu tahun, bahkan pada kondisi tertentu perlu dilanjutkan seumur hidup sesuai anjuran medis.
Agar proses pemulihan berjalan optimal, pasien disarankan untuk mengikuti seluruh arahan dokter, baik sebelum maupun setelah prosedur, serta tidak menghentikan konsumsi obat tanpa persetujuan medis. Pasien juga perlu memantau tanda-tanda infeksi seperti nyeri, bengkak, atau kemerahan di area pemasangan kateter, serta menghindari aktivitas berat dan mengangkat beban besar hingga dokter menyatakan aman.
Kontrol lanjutan secara rutin juga penting untuk memastikan kondisi tetap stabil. Dalam banyak kasus, pasien dapat kembali bekerja sekitar satu minggu setelah tindakan, tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing.
Meski stent membantu membuka pembuluh darah dan memperlancar aliran darah ke jantung, tindakan ini tidak menyembuhkan penyakit jantung koroner secara permanen. Perubahan gaya hidup tetap menjadi kunci utama untuk mencegah penyumbatan ulang, seperti rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, mengelola stres, serta mengonsumsi obat sesuai resep dokter.