AI Jadi Harapan Baru Temukan Obat Penyakit Langka
- 11 Mar 2026 07:29 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Massachusetts : Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membuka harapan baru dalam dunia kesehatan. Teknologi ini kini dimanfaatkan para ilmuwan untuk menemukan terapi bagi berbagai penyakit yang selama ini dianggap sulit atau bahkan tidak dapat disembuhkan.
Dilansir dari BBC Future dalam artikel yang terbit 9 Maret 2026, para peneliti menggunakan AI untuk menganalisis jutaan data biologis, mulai dari informasi genetik, struktur protein, hingga interaksi obat di dalam tubuh manusia. Dengan kemampuan mengolah data dalam jumlah besar secara cepat, AI mampu menemukan pola yang sebelumnya sulit diidentifikasi oleh peneliti.
Melalui analisis tersebut, sistem AI dapat membantu ilmuwan memprediksi senyawa kimia yang berpotensi menjadi obat baru. Bahkan dalam beberapa kasus, teknologi ini juga mampu menemukan penggunaan baru dari obat yang sudah ada. Pendekatan ini dikenal sebagai drug repurposing, yaitu memanfaatkan kembali obat lama untuk mengobati penyakit lain yang sebelumnya belum memiliki terapi efektif.
AI juga membantu memetakan hubungan kompleks antara gen, penyakit, dan molekul obat. Dengan pemetaan ini, para peneliti dapat menentukan kandidat terapi yang paling menjanjikan untuk diuji lebih lanjut di laboratorium. Proses yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun kini bisa dipercepat dengan bantuan komputasi canggih.
Selain itu, teknologi ini juga mendukung pengembangan pengobatan yang lebih personal atau precision medicine. Dengan menganalisis data genetik dan kondisi kesehatan setiap pasien, AI dapat membantu merancang terapi yang lebih sesuai dengan karakteristik individu, sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih besar.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa temuan dari sistem AI tetap harus melalui berbagai tahap penelitian, termasuk uji laboratorium dan uji klinis pada manusia, sebelum benar-benar dapat digunakan sebagai pengobatan.
Namun kemajuan ini tetap memberi optimisme. Dengan dukungan kecerdasan buatan, para peneliti berharap penemuan terapi untuk penyakit langka dan penyakit kronis yang selama ini sulit diobati dapat dilakukan lebih cepat di masa depan.