Megahnya Sejarah Angkor Wat: Permata Peradaban Khmer
- 24 Feb 2026 09:56 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Angkor Wat bukan sekadar tumpukan batu, ia adalah manifestasi fisik dari kosmologi Hindu-Buddha dan puncak kejayaan Kekaisaran Khmer. Terletak di Siem Reap, Kamboja, monumen ini memegang rekor sebagai struktur keagamaan terbesar di dunia. Angkor Wat dibangun pada paruh pertama abad ke-12 (sekitar tahun 1113–1150) atas perintah Raja Suryavarman II. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya yang biasanya memuja Siwa, Suryavarman II mendedikasikan candi ini untuk Dewa Wisnu. Pembangunannya diperkirakan memakan waktu sekitar 30 tahun. Candi ini dirancang sebagai "candi gunung" yang melambangkan Gunung Meru, pusat alam semesta dalam mitologi Hindu. Parit luas di sekelilingnya melambangkan samudra kosmik yang mengelilingi dunia.
Kehebatan Angkor Wat terletak pada presisi arsitekturnya. Beberapa elemen kunci meliputi:
Bas-relief (Relief Rendah): Dinding galeri luar dihiasi dengan ukiran detail yang menceritakan epos Hindu seperti Ramayana dan Mahabharata, serta kemegahan pasukan Raja Suryavarman II.
Menara Utama: Lima menara berbentuk kuncup teratai yang melambangkan puncak-puncak Gunung Meru.
Orientasi ke Barat: Berbeda dengan mayoritas candi Khmer yang menghadap ke timur, Angkor Wat menghadap ke barat. Para sejarawan berpendapat ini karena barat diasosiasikan dengan Dewa Wisnu dan juga sebagai arah kematian, menunjukkan bahwa candi ini mungkin juga berfungsi sebagai makam (mausoleum) bagi raja.
Pada akhir abad ke-12, di bawah pemerintahan Raja Jayavarman VII, Kekaisaran Khmer mulai beralih ke Buddhisme Mahayana. Angkor Wat perlahan bertransformasi dari pusat pemujaan Hindu menjadi situs suci Buddha. Setelah jatuhnya Kekaisaran Khmer pada abad ke-15, ibu kota dipindahkan ke Phnom Penh. Meskipun Angkor Wat tidak pernah benar-benar ditinggalkan sepenuhnya oleh penduduk lokal, kompleks ini sempat "tertutup" oleh rimba tropis. Dunia internasional mulai memberikan perhatian besar setelah penjelajah Prancis, Henri Mouhot, menerbitkan catatan perjalanannya pada tahun 1860-an. Ia menggambarkan Angkor Wat sebagai karya seni yang setara dengan peninggalan Yunani atau Romawi kuno.
Selama abad ke-20, Angkor Wat menghadapi ancaman dari perang saudara dan rezim Khmer Merah. Namun, sejak ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1992, upaya restorasi internasional besar-besaran telah dilakukan untuk membersihkan lumut, memperbaiki struktur yang runtuh, dan melindungi relief dari erosi. Hingga saat ini, Anda masih bisa menemukan patung-patung Buddha yang ditempatkan di dalam koridor candi, dan situs ini tetap menjadi tempat ziarah aktif bagi biksu dari seluruh dunia.