Mitos atau Fakta: Minum Kopi Bikin Tidak Bisa Tidur
- 27 Feb 2026 21:50 WIB
- Kaimana
RRI.CO.ID, Kaimana - Banyak orang menganggap kopi adalah "musuh" utama tidur nyenyak, sementara yang lain merasa tetap bisa terlelap meski baru saja menyesap espresso.
Lantas, bagaimana kebenarannya secara medis .Berikut adalah penjelasan mengenai mitos dan fakta di balik hubungan kopi dengan kualitas tidur Anda:
- Benarkah Kafein Menghambat Tidur (Fakta)
Secara biologis, ini adalah fakta. Di dalam otak terdapat molekul bernama adenosin yang bertugas memberi sinyal "lelah" dan memicu rasa kantuk.
Cara Kerja: Kafein memiliki struktur yang mirip dengan adenosin. Ia "menipu" otak dengan menempel pada reseptor adenosin, sehingga otak tidak menerima sinyal lelah tersebut. Hasilnya anda merasa tetap terjaga, waspada, dan rasa kantuk tertunda.
- Kopi Hanya Berpengaruh Selama 1-2 Jam (Mitos)
Ini adalah mitos yang sering disalahpahami. Kafein memiliki waktu paruh (half-life) sekitar 5 hingga 6 jam artinya, jika Anda minum kopi pukul 16.00 sore, setengah dari kandungan kafeinnya masih ada di sistem tubuh Anda pada pukul 22.00 malam. Hal inilah yang sering menyebabkan kesulitan tidur (insomnia) atau tidur yang tidak nyenyak meskipun Anda sudah berhasil terlelap.
- Efek Kopi Sama Bagi Semua Orang (Mitos)
Mitos, reaksi tubuh terhadap kopi sangat bergantung pada genetik dan toleransi.
Ada orang yang memiliki enzim di hati (CYP1A2) yang bekerja sangat cepat memecah kafein, sehingga mereka bisa tidur segera setelah minum kopi.
Sebaliknya, orang dengan metabolisme lambat mungkin akan merasakan efek deg-degan dan terjaga hingga belasan jam.
- Kopi Merusak Kualitas Tidur (Deep Sleep) (Fakta)
Meskipun Anda termasuk orang yang "bisa tidur setelah minum kopi", kafein tetap berisiko mengurangi durasi Deep Sleep (tidur nyenyak). Dampaknya kamu mungkin tidur selama 8 jam, tetapi bangun dalam keadaan tetap lelah atau lemas karena otak tidak masuk ke fase pemulihan yang dalam.
Perlu kita pahami bahwa pernyataan bahwa kopi bikin tidak bisa tidur adalah Fakta secara ilmiah, namun intensitasnya sangat bergantung pada waktu konsumsi dan kondisi biologis masing-masing individu.
( Sumber artikel : IDN Times.com )