Ragam Tradisi Nusantara Warnai Sambut Datangnya Bulan Ramadan

  • 16 Feb 2026 15:25 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Masyarakat Indonesia memiliki beragam tradisi lokal dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk persiapan spiritual, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan menjaga nilai budaya di tengah masyarakat.

Di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat mengenal tradisi megengan yang biasanya diisi doa bersama serta pembagian kue apem sebagai simbol permohonan maaf. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi diri sekaligus ajang silaturahmi sebelum memasuki masa ibadah puasa.

Sementara itu, masyarakat Sunda di Jawa Barat memiliki tradisi munggahan yang dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga, makan bersama, dan berziarah ke makam leluhur. Munggahan dimaknai sebagai upaya membersihkan diri lahir dan batin agar dapat menjalani Ramadan dengan lebih khusyuk.

Di Aceh, tradisi meugang menjadi bagian penting menjelang Ramadan, yakni membeli dan mengolah daging untuk disantap bersama keluarga maupun dibagikan kepada tetangga. Tradisi ini menegaskan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat juga memiliki tradisi balimau yang dilakukan dengan mandi menggunakan air jeruk atau wewangian sebagai simbol penyucian diri. Meski kini lebih banyak dimaknai secara simbolis, balimau tetap menjadi penanda budaya menjelang datangnya Ramadan.

Menurut berbagai catatan budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, tradisi menyambut Ramadan di Indonesia mencerminkan akulturasi antara ajaran agama dan kearifan lokal. Keberagaman tradisi ini memperlihatkan bagaimana nilai spiritual dapat berjalan selaras dengan identitas budaya masyarakat di berbagai daerah.

Selain menjaga nilai religius, tradisi-tradisi tersebut juga memiliki dampak ekonomi melalui kegiatan pasar dadakan, kuliner khas, dan wisata budaya yang menarik minat masyarakat luas. Kehadiran tradisi lokal menjelang Ramadan sekaligus memperkuat identitas kebinekaan Indonesia yang hidup melalui praktik budaya sehari-hari.

Rekomendasi Berita