Okra Berpotensi Jadi Penyaring Mikroplastik Ramah Lingkungan
- 17 Feb 2026 20:27 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Tanaman okra yang mulai banyak dibudidayakan di Indonesia berpotensi menjadi solusi ramah lingkungan untuk membantu mengurangi pencemaran mikroplastik di perairan. Pemanfaatan bahan alami dari tanaman ini dinilai relevan bagi negara kepulauan yang menghadapi tantangan besar terkait sampah plastik.
Mikroplastik menjadi isu serius karena ukurannya yang sangat kecil membuatnya sulit disaring dengan teknologi konvensional dan berpotensi masuk ke rantai makanan. Di Indonesia, masalah ini semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya produksi sampah plastik dan dampaknya terhadap ekosistem laut.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ACS Omega oleh tim Tarleton State University, Amerika Serikat, yang dipimpin Rajani Srinivasan menunjukkan bahwa lendir alami dari okra mampu mengikat partikel mikroplastik sehingga mudah dipisahkan dari air. Senyawa polisakarida dalam okra bekerja sebagai koagulan alami yang dapat menggantikan bahan kimia sintetis dalam proses penyaringan.
Pendekatan berbasis tanaman ini dinilai memiliki peluang besar diterapkan di Indonesia karena bahan bakunya relatif mudah diperoleh dan dapat dibudidayakan secara lokal. Selain ramah lingkungan, penggunaan okra berpotensi menekan biaya pengolahan air dibandingkan metode konvensional.
Bagi masyarakat pesisir dan wilayah pedesaan, teknologi sederhana berbasis bahan alami seperti okra dapat menjadi alternatif solusi yang lebih mudah diakses. Konsep ini juga selaras dengan pendekatan ekonomi sirkular yang memanfaatkan sumber daya hayati sebagai bagian dari inovasi lingkungan.
Namun, para peneliti menekankan bahwa pengembangan lebih lanjut masih diperlukan sebelum teknologi ini dapat diterapkan secara luas di sistem pengolahan air. Penyesuaian terhadap kondisi air tropis serta skala produksi menjadi faktor penting untuk memastikan efektivitasnya di Indonesia.
Potensi okra sebagai penyaring mikroplastik menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus berasal dari teknologi kompleks. Dengan memanfaatkan tanaman yang akrab di masyarakat, Indonesia memiliki peluang mengembangkan inovasi berbasis alam yang mendukung keberlanjutan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan.