Fenomena Ngabuburit di Era Digital

  • 23 Feb 2026 08:44 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID Kendari - Tradisi ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Jika dahulu masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di ruang terbuka atau berburu takjil di pasar Ramadan, kini aktivitas tersebut juga merambah ke ruang digital melalui media sosial dan berbagai platform daring.

Menjelang magrib, linimasa media sosial dipenuhi siaran langsung, konten kuliner, hingga diskusi ringan seputar Ramadan. Generasi muda memanfaatkan waktu ngabuburit dengan membuat konten, berbagi rekomendasi tempat berbuka, atau mengikuti kajian secara virtual. Aktivitas ini dinilai sebagai bentuk adaptasi tradisi terhadap kemajuan teknologi.

Dikutip dari Kompas.com (2024), perubahan pola interaksi masyarakat di era digital turut memengaruhi cara orang menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk dalam memaknai momen Ramadan. Kehadiran platform digital membuat ruang berkumpul tidak lagi terbatas secara fisik.

Meski demikian, para ahli komunikasi mengingatkan agar penggunaan media sosial tetap bijak. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam imbauannya tentang literasi digital (2023), masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan ruang digital secara positif, produktif, dan bertanggung jawab. Hal ini penting agar tradisi ngabuburit tetap membawa nilai kebersamaan dan tidak sekadar menjadi ajang konsumsi konten semata.

Di Kendari, fenomena ini juga terlihat dari meningkatnya aktivitas daring menjelang waktu berbuka. Banyak warga mengikuti kajian virtual, berbelanja takjil secara online, atau sekadar berbagi momen kebersamaan melalui media sosial. Tradisi lama pun tetap hidup, namun dalam wajah yang lebih modern.

Rekomendasi Berita