Rangginang Renyah Warisan Kuliner Nusantara

  • 01 Mar 2026 04:24 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Usaha camilan tradisional rangginang terus bertahan di tengah persaingan makanan modern. Di wilayah Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Ibi Nur memproduksi rangginang secara rumahan dengan mempertahankan cita rasa khas dan proses tradisional.

Ibi Nur mengatakan, ia memilih tetap menggunakan cara pembuatan tradisional agar kualitas dan rasa tetap terjaga. “Saya tetap pakai cara lama, mulai dari kukus ketan, bumbui bawang putih, terasi dan garam, lalu dijemur sampai benar-benar kering sebelum digoreng. Supaya hasilnya renyah dan gurih,” ujarnya.

Rangginang sendiri dikenal sebagai camilan khas masyarakat Sunda di Jawa Barat. Konon, makanan ini lahir dari ketidaksengajaan saat ketan yang hendak dijadikan tape kehabisan ragi, lalu diolah menjadi kudapan kering yang digoreng hingga mengembang.

Proses produksi rangginang membutuhkan ketelatenan, terutama pada tahap penjemuran yang harus benar-benar kering sebelum digoreng dengan metode deep frying. Dalam budaya Jawa dan Sunda, proses tersebut melambangkan kesabaran dan kebersamaan.

Menurut Ibi Nur, peluang usaha rangginang masih cukup menjanjikan karena bahan bakunya mudah diperoleh dan diminati masyarakat. Selain mempertahankan rasa original, ia juga mulai mengikuti perkembangan pasar dengan memperhatikan kemasan yang lebih higienis dan menarik agar mampu bersaing dengan camilan modern.

Dengan konsistensi menjaga kualitas dan sentuhan inovasi, usaha rangginang rumahan ini diharapkan dapat terus berkembang sekaligus melestarikan kuliner tradisional Nusantara

Rekomendasi Berita