BPOM Dorong Teknologi Sterilisasi Produk UMKM
- 10 Mar 2026 20:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendorong pelaku UMKM memanfaatkan teknologi sterilisasi dalam produksi pangan. Teknologi ini dinilai dapat membuat produk lebih tahan lama sekaligus membuka peluang pasar lebih luas.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan sektor pangan memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM. Berdasarkan perhitungan BPOM, potensi pasar produk pangan mencapai sekitar 75 persen dari sektor yang diawasi lembaga tersebut.
“Banyak produk makanan UMKM hanya mampu bertahan satu sampai dua hari. Kondisi ini membuat potensi pasar menjadi tidak maksimal,” ujarnya saat sesi doorstop di acara workshop dan peluncuran Buku Saku "UMKM Paham Uji: Wujudkan Produk Aman dan Berkualitas untuk Negeri" di Kantor BPOM RI, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Maret 2026.
Produk yang cepat rusak, kata dia, sulit menjangkau pasar yang lebih luas. Akibatnya, pelaku UMKM kerap kesulitan memperbesar skala usahanya.
Karena itu BPOM mendorong penggunaan teknologi steril komersial bagi pelaku usaha. Teknologi ini memungkinkan produk pangan bertahan lebih lama tanpa mengurangi standar keamanan.
“Dengan teknologi steril komersial produk bisa bertahan hingga enam bulan bahkan sampai satu setengah tahun. Produk tetap aman dan sesuai standar yang ditetapkan,” katanya.
Dengan masa simpan yang lebih panjang, peluang pemasaran produk UMKM juga semakin besar. Produk tidak hanya dijual di sekitar lokasi produksi, tetapi dapat dipasarkan ke daerah lain.
Taruna Ikrar menilai, peningkatan kualitas produk akan berdampak langsung pada pendapatan pelaku usaha. Menurutnya, UMKM yang naik kelas akan memberi kontribusi besar bagi perekonomian nasional.
“Kami ingin membantu UMKM agar produknya memenuhi standar keamanan sekaligus memiliki daya saing lebih tinggi. Jika UMKM berkembang maka dampaknya besar bagi ekonomi nasional,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Bidang Pembinaan dan Pemberdayaan IKM GAPMMI Betsy Monoarfa mengapresiasi peluncuran buku saku BPOM. Menurutnya panduan tersebut membantu pembina UKM memberikan edukasi keamanan pangan kepada pelaku usaha.
“Buku saku ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai pembina UKM. Panduan ini bisa menjadi acuan edukasi bagi UKM binaan kami,” ujarnya.
Menurut Betsy, pelaku usaha harus memahami bahwa keamanan pangan tidak bisa ditawar. Kesadaran tersebut penting agar produk UKM tetap aman dikonsumsi masyarakat.
“Keamanan pangan adalah harga mati bagi seluruh pelaku usaha. Standar tersebut harus dipatuhi meski produk berasal dari UKM,” ucapnya.
Ia berharap peluncuran buku saku tersebut membantu pelaku UKM meningkatkan kualitas produk. Dengan demikian, pelaku usaha dapat naik kelas dan memperluas pasar.
“Harapan kami UKM bisa berkembang lebih baik dan produknya semakin berkualitas. Langkah BPOM ini sangat membantu proses pembinaan,” katanya.