Orang Tua Diminta Bangun Kedekatan Emosional dengan Anak
- 12 Mar 2026 16:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Para orang tua diminta senantiasa menciptakan ruang aman bagi kondisi emosional para anak. Hal itu dilakukan guna membantu upaya dalam mengatasi kenaikan angka masalah gangguan kesehatan mental secara nasional.
Founder Mindset Perempuan Indonesia (MPI) Mella Noviani memberikan saran agar mengubah pola asuh. Langkah ini bertujuan untuk memberikan rasa nyaman kepada buah hati di tengah krisis kejiwaan yang meluas.
“Sering kali kita fokus pada prestasi anak, tetapi lupa bahwa kebutuhan emosional mereka sama pentingnya. Anak yang tidak didengar, tidak dipahami, atau tumbuh dalam konflik keluarga yang terus-menerus berpotensi mengalami tekanan psikologis sejak dini,” ujar Mella Noviani dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Keluarga wajib melakukan komunikasi terbuka guna membicarakan berbagai ketakutan anak tanpa harus memberikan suatu penghakiman buruk. Selain itu pihak sekolah serta masyarakat juga harus turut serta menciptakan lingkungan yang benar sangat suportif.
Tekanan akademik tinggi dari orang tua terhadap seorang anak berisiko tinggi memicu timbulnya rasa cemas mendalam. Orang tua kini sangat perlu mempelajari emosi setiap anak demi mengelola konflik keluarga dengan cara sehat.
“Keluarga yang sehat bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga tentang menciptakan hubungan yang aman secara emosional. Anak perlu merasa didengar, dihargai, dan diterima apa adanya,” ucapnya.
Menurutnya, Pemerintah juga menyediakan layanan konseling melalui jalur siaga Sejiwa/Healing 119 milik Kementerian Kesehatan. Krisis kesehatan mental anak bukan sekadar persoalan individu, tetapi cerminan bagaimana masyarakat membangun hubungan dan nilai dalam keluarga.
“Perubahan besar dalam masyarakat selalu dimulai dari keluarga. Ketika orang tua memiliki kesadaran emosional yang sehat, anak akan tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki ketahanan mental yang lebih kuat,” ujarnya.
Data resmi terbaru menunjukkan fakta bahwa masalah kejiwaan anak sebenarnya belum berhasil dideteksi secara sangat baik sebelumnya. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memaparkan hasil skrining terhadap tujuh juta anak di gedung kementerian.
“Jadi kita screening tahun pertama kan sekitar tujuh jutaan. Angkanya hampir 10 persen,” kata Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers di kantor Kemenkes, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Budi mencatat 4,4 persen anak mengalami gangguan cemas, sementara 4,8 persen lainnya menunjukkan indikasi kondisi gejala depresi. Hasil peninjauan kesehatan tersebut membuktikan jumlah penderita penyakit mental di lingkungan generasi muda masih terbilang tinggi.
“(Sebanyak-red) 338 ribu itu ada gejala cemas atau anxiety disorder. Nah, 363 ribu atau sekitar 4,8 persen itu lebih parah lagi, punya gejala depresi atau depression disorder,” ucap Menkes Budi.