Kasus Campak Menurun, Kemenkes Perkuat Imunisasi Kejar di Daerah
- 13 Mar 2026 16:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut jumlah kasus campak di Indonesia mulai menunjukkan tren penurunan pada pekan kesembilan tahun 2026. Penurunan terjadi setelah pemerintah memperkuat imunisasi respons wabah serta program kejar imunisasi di sejumlah daerah.
“Pada minggu ke-9 itu sudah terjadi penurunan jika dibandingkan minggu ke-8. Minggu ke-9 itu ada 231 kasus di seluruh Indonesia,” kata PLT Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni saat diwawancarai usai menghadiri Pelepasan Mudik Bareng Pegawai Kemenkes di Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.
Pemerintah melakukan berbagai langkah pengendalian, termasuk pelaksanaan Outbreak Response Immunization di daerah yang mengalami kejadian luar biasa campak. Program tersebut dilakukan untuk menekan penularan serta melindungi kelompok rentan, terutama balita, dari risiko penyebaran penyakit.
“Respons untuk imunisasi, baik ORI atau Outbreak Response Immunisation, sudah dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota yang terjadi KLB. Program ini dilakukan untuk menekan penularan serta melindungi kelompok rentan,” ucap Andi.
Selain itu, pemerintah juga melakukan program catch-up campaign atau imunisasi kejar di wilayah yang tidak mengalami KLB tetapi sempat mengalami peningkatan kasus. Andi mengingatkan campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi, sehingga masyarakat diminta tidak menyepelekan penyakit tersebut.
“Daerah yang tidak terjadi KLB tetapi kasusnya sempat naik juga sudah dilakukan catch-up campaign imunisasi campak. Campak itu daya tularnya sangat tinggi. Satu kasus bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang lainnya,” ucap Andi.
Ia menambahkan kelompok yang paling rentan tertular adalah anak-anak, khususnya balita. “Terutama balita, walaupun juga ada sedikit kasus pada anak-anak yang lebih dewasa,” kata Andi menutup.
Sementara, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menilai meningkatnya kasus campak menjadi peringatan serius bagi kesehatan. Ia mengingatkan pentingnya kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk memperkuat imunisasi serta melindungi anak Indonesia.
“Saya ingat tahun 2012 sering sekali debat dengan kelompok orang tua yang menolak vaksinasi. Ternyata sekarang, 14 tahun kemudian, masih ada dan bahkan makin banyak,” kata Piprim.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi kemunduran dalam upaya perlindungan kesehatan anak di Indonesia. Ia mengajak pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat memperkuat kolaborasi guna melindungi anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah imunisasi.
“Ini tamparan keras bagi kita semua. Indonesia dengan penduduk sekitar 280 juta justru memiliki kasus campak yang tinggi. Satu nyawa anak saja begitu berharga bagi kita semua, terutama bagi orang tuanya,” ucap Piprim menutup.