Peran Cerita Rakyat dalam Pembentukan Karakter Generasi Muda

  • 12 Feb 2026 13:28 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Penulis, praktisi dan konsultan pendidikan di NTT, E. Nong Yonson mengatakan di tengah pesatnya arus digitalisasi, cerita rakyat NTT kini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan instrumen vital dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, cerita rakyat dapat memperkuat karakter generasi muda saat ini, sehingga tidak hanya menjadi siswa yang “merasa pintar”, tetapi juga “pintar merasa”.

"Karakter membentuk seseorang untuk menjadi pintar merasa, yakni menghargai dan mengapresiasi orang lain, bukan merasa pintar yang berpotensi merendahkan sesama," katanya pada RRI Kupang, Senin, 9 Februari 2026.

Ia menambahkan bahwa cerita rakyat mengandung nilai toleransi, empati, dan makna mendalam yang jarang ditemukan dalam kurikulum formal saat ini. Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap gejala degradasi karakter pada anak muda sekarang, seperti berkurangnya etika saat berbicara dengan orang tua, dan fenomena di mana anak muda lebih mengenal tren global namun buta terhadap kisah di kampungnya sendiri.

"Salah satu indikasi kehilangan jati diri adalah ketika anak-anak mengganti cerita daerah mereka dengan cerita luar yang sebenarnya hanya cukup diketahui saja, bukan didalami," ujarnya.

Selain itu, penggunaan atribut budaya (pakaian adat) yang sering kali digunakan untuk konten media sosial, menurutnya tidak relevan dengan nilai luhur budaya. Beberapa cerita rakyat yang memiliki nilai dan pesan moral yang mendalam, diantaranya Legenda Kelimutu, yang mengajarkan tentang klasifikasi moral melalui tiga warna danau sebagai tempat arwah orang bijak, orang muda, dan orang jahat, Asal-Usul Padi (Inepare/Muanilir Gorat) yang mengajarkan nilai pengorbanan dan bagaimana manusia harus menjaga sumber kehidupan, dan Kearifan Lokal Suku Boti, yang menjadi contoh nyata bagaimana menghormati alam semesta secara religius.

Kurangnya minat dalam membaca cerita rakyat, menjadi faktor utama degradasi karakter pada generasi muda saat ini. Untuk mengatasi krisis karakter ini, Ia memberikan beberapa rekomendasi konkret, seperti mengembalikan cerita rakyat ke dunia pendidikan dan menghidupkan kembali pengajaran peribahasa, sejarah, dan seni budaya yang berbasis muatan lokal di sekolah.

Orang tua juga diharapkan meluangkan waktu untuk berdiskusi dan mendongeng bagi anak, bukan sekadar memberikan gawai sebagai pengasuh. Mengemas ulang cerita rakyat dalam bentuk digital atau buku anak yang lebih menarik tanpa menghilangkan esensi moralnya, juga menjadi cara inovasi dari pengembangan cerita rakyat bagi generasi muda.

"Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali. Cerita rakyat adalah sarana utama untuk mendidik hati melalui narasi empati dan toleransi," katanya. (JR)

Rekomendasi Berita