Surat Gembala Uskup: Gerekan Misioner Gereja Menghadirkan Pengharapan
- 19 Feb 2026 10:48 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni dalam Surat Gembala Prapaskah 2026 mengajak Umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang mengajak Umat berjalan bersama dalam semangat doa, puasa, dan amal kasih (Bdk. Mateus 6:1-18). Meningkatkan doa pribadi dan doa keluarga, serta menggalang aksi solidaritas nyata bagi yang membutuhkan.
Surat Gembala Uskup Agung Kupang yang disampaikan Romo Rudolf Tjung Lake pada Misa Rabu Abu, di Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang, Rabu, 18 Februari 2026 menyampaikan bahwa masa rahmat Prapaskah 2026 adalah kesempatan untuk memperbaharui hidup, memperdalam pertobatan, berbalik kepada Tuhan (Bdk. Yoel 2:12-13), serta meneguhkan kembali penggilan umat Allah sebagai murid-murid Kristus yang diutus (Bdk. Mrk 6:6b-13). Tema APP Tahun 2026 adalah, “Aksi Puasa Pembangunan: Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan, mengajak kita untuk tidak berhenti pada praktik kesalehan pribadi, tetapi bergerak bersama sebagai Gereja yang hidup, siloder, dan missioner.
Sejak dahulu, Aksi Puasa Pembangunan (APP) menjadi ciri khas perjalanan iman umat Katolik di Indonesia. APP bukan sekadar pengumpulan data, melainkan ungkapan iman yang nyata dalam tindakan kasih dan solidaritas.
Puasa yang kita jalani hendaknya membuka mata dan hati kita terhadap saudara-saudari yang miskin, lemah, tersingkir, dan menderita, termasuk para korban bencana alam maupun sosial. Menurut Uskup Agung Kupang, ketika berbicara tentang kesalehan yang palsu dan sejati, Nabi Yesaya berkata, “Berpuasa yang Ku hendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yesaya, 58:6-7).
Paus Fransisku dalam Seruan Apostoliknya Evangelii Gaudium, antara lain menegaskan bahwa “Gereja dipanggil untuk keluar dari dirinya sendiri dan menjadi “Gereja yang bergerak”, Gereja yang pergi ke pinggiran, menyapa mereka yang terlupakan, dan merangkul mereka yang terluka” (Lih.EG. 49). Kata-kata ini meneguhkan kita bahwa pertobatan sejati selalu berbuah dalam perutusan.
Gereja tidak hidup untuk dirinya sediri, tetapi untuk dunia. Karena itu, “Setiap Orang Kristiani dan setiap komunitas dipanggil untuk menjadi sarana Allah bagi pembebasan dan pemajuan kaum miskin” (EG. 187). Menurut Mgr. Hiro Pakaenoni, semangat ini sejalan dengan arah Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang secara konsisten menempatkan APP adalah wujud nyata Gereja yang berpihak pada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dab difabel.
Dalam Surat Gembala Uskup Agung Kupang juga menyampaikan, tidak dapat disangkal bahwa, realitas disekitar kita masih saja ditandai oleh berbagai tantangan: kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, perdagangan orang dan migrasi tenaga kerja yang rentan, kekerasan publik dan domestic, teristimewa terhadap anak-anak dan kaum wanita. Selain itu, ada pergaulan bebas remaja dan pemuda dengan segala dampaknya yang memprihatinkan akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata. Uskup Agung Kupang juga menyerukan, arus individualisme yang semakin menguat, krisis ekologis yang berdampak pada kekerasan akibat kemarau panjang, kekurangan air bersih, lemahnya ketahanan pangan, dan sanitasi masyarakat.
Uskup Agung Kupang juga menyampaikan, dalam situasi ini, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda pengharapan , sebagaimana diamanatkan Konstitusi Pastoral tentang Gereja Dalam Dunia Dewasa ini: “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia zaman ini, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS. 1). Ajaran Konsili ini menegaskan bahwa Gereja tidak terlepas dari realitas dunia, tetapi Gereja justru hadir di tengah pergumulan masyarakat untuk membawa terang Injil dan pengharapan.
Dalam hal ini, Pengharapan Kristiani bukanlah sekadar optimism kosong, melainkan keyakinan teguh bahwa Tuhan senantiasa berkarya dalam sejarah. “Pengharapan itu tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus,” (Rm. 5:5).
“Kita menghadirkan harapan melalui tindakan konkret, antara lain dengan: membantu keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, mendukung pendidikan anak-anak dan kaum muda, merawat lingkungan hidup sebagai rumah kita bersama, dan membangun persaudaraan lintas agama dan budaya. Dengan demikian, APP bukan sekadar aksi sosial-karitatif, melainkan proses pendidikan iman menuju transformasi sosial,” kata YM. Uskup Agung Kupang dan Surat Gembalanya, pada Misa Rabu Abu, Rabu, 18 Februari 2026.
“Kita juga dipanggil untuk membangun Gereja yang semakin sinodal: berjalan bersama, saling mendengarkan, dan bekerja bersama. Setiap paroki, komunitas basis gerejawi, dan keluarga-keluarga Kristiani hendaknya menjadi pusat misi yang hidup,” kata Uskup Hironimus.
Dalam hal ini, gerakan Missioner bukan hanya tugas para Imam atau biarawan-biarawat, tetapi panggilan seluruh umat Allah. Keluarga-keluarga dipanggil untuk menjadi Gereja Rumah Tangga, kaum muda menjadi pelopor perubahan, dan para pemimpin umat serta masyarakat menjadi saksi-saksi integritas dan pelayanan.
Pada Masa Prapaskah, Uskup Agung Kupang juga mengajak seluruh umat untuk mengikuti kegiatan Aksi Puasa Pembangunan di Paroki, lingkungan, dan kelompok-kelompok basis, dengan penuh tanggungjawab. Menghidupi semangat tobat dan rekonsiliasi melalui penerimaan Sakramen Tobat.
Meningkatkan doa pribadi dan doa keluarga serta menggalang aksi solidaritas nyata bagi yang membutuhkan. “Semoga masa Prapaskah ini sungguh menjadi perjalanan rohani yang membaharui, sehingga pada perayaan Paskah nanti, kita boleh bangkit bersama Kristus sebagai Gereja yang semakin missioner dan penuh pengharapan,” ujar Uskup Hironimus.
“Kita serahkan ziarah rohani kita selama masa Prapaskah ini kepada Santa Perawan Maria Bunda Pengharapan. Semoga oleh doa-doa dan pengantaranya, Tuhan memberkati setiap niat baik dan usaha kita dalam mewujudkan Aksi Puasa Pembangunan sebagai gerakan missioner Gereja dalam menghadirkan pengharapan di tengah dunia kita dewasa ini,” ujar YM. Mgr. Hironimus Pakaenoni, dalam Surat Gembala Prapaskah 2026. (at)